Kudus  

Musim Penghujan, Waspadai Penyakit Leptospirosis

Dokter Penyakit Dalam, Rumah Sakit (RS) Sarkies Aisyiyah Kudus, Wahyu Adirama Saputra.
Dokter Penyakit Dalam, Rumah Sakit (RS) Sarkies Aisyiyah Kudus, Wahyu Adirama Saputra. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Pada musim penghujan, rawan dengan adanya penyakit Leptospirosis. Biasanya, penyakit ini muncul ketika kurang menjaga kebersihan lingkungan. Di Indonesia hewan yang paling sering membawa virus penyakit leptospirosis yakni kencing tikus.

Dokter penyakit dalam Rumah Sakit (RS) Sarkies Aisyiyah Kudus, Wahyu Adirama Saputra mengatakan, Leptospirosis merupakan suatu penyakit yang namanya xerosis. Penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Bisa menular secara langsung maupun tidak langsung. Atau bisa dari air yang tercemar.

Selamat Idulfitri 2024

“Menular langsung itu dari urin hewan yang terkena luka pada kulit manusia. Atau bisa juga  ke mukosa. Sedangkan tidak langsung, bisa kita kena ke air yang tercemar dengan urinnya,” jelasnya.

Baca juga:  Konsumsi Pertalite Diprediksi Naik, Stok di Kudus Dijamin Aman

Dia menyebutkan, gejala yang dialami oleh penderita penyakit ini sangat luas. Mulai dari sangat ringan hingga berat. Gejala ringan seperti demam, nyeri otot dan infeksi. Sedangkan gejala berat seperti, gagal ginjal, batuk darah, dan menyerang otak. Bahkan mengakibatkan kematian.

“Penyakit ini 99 persen ringan sedang. Artinya, masih bisa ditangani. Kalau berat itu hanya 10 persen. Yang Berat itu angka menyebabkan kematian tinggi. Penyakit ini sifatnya menular dari manusia ke manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk Indonesia sendiri paling sering dari air yang tercemar kencing tikus. Tak hanya itu, sebenarnya hewan lain juga bisa menyebabkan penyakit lepto muncul. Seperti ternak kambing, sapi, kerbau, kelinci dan sebagainya.

Baca juga:  BTN Kudus Beri Bantuan Paket Sembako ke Warga Terdampak Banjir

“Beberapa kepmpok lebih rentan terkena penyakit ini seperti, petani, pekerja perkebunan, tukang bersih saluran air, pemotongan hewan. Lebih rentan. Atau juga, daerah-daerah yang memiliki kebersihan lingkungan kurang baik dan sanitasi kurang bagus. Menjadi resiko penyebab kena penyakit lepto,” paparnya.

Ia melanjutkan, pada saat momen banjir, mulai masuk musim penghujan. Banjir merupakan suatu tantangan disetiap kota. Untuk menanggulangi banjir, kesehatan bisa terganggu. Bisa terkena Lepto.

“Ada kasus pada 2023 lalu, satu kasus dinyatakan positif. Satu suspek belum di cek sudah meninggal. Satu lagi sudah di cek hasilnya negatif,” katanya.

Baca juga:  Tingkatkan Kompetensi Guru Lewat Komunitas Belajar

Untuk antisipasinya, ia berharap, kepada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) untu bekerja sama dengan lintas sektor dan lintas program. Tentang bagaimana cara mencegah banjir.

Selain itu, memberikan sarana tentang bagaimana mendapatkan sanitasi yang baik. Kemudian, kenjaga kebersihan lingungan supaya tikus tidak banyak hidup disekitaran. (cr3/fat)