Pendaftar Inklusi di Semarang Capai 130 Siswa

Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Semarang, Fajriah
Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Semarang, Fajriah. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) inklusi gelombang pertama dan kedua tahun 2024 di Kota Semarang telah berakhir. Pendaftarnya mencapai 130 siswa.

Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Semarang, Fajriah mengatakan, pendaftar sekolah dasar (SD) ada sebanyak 72 siswa. Kemudian untuk sekolah menengah pertama (SMP) sebanyak 58 siswa.

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan asesmen, kata dia, ada yang merujuk ke Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) khusus yang tidak mampu sebanyak 68 dari gelombang pertama sampai kedua. Pendaftar inklusi yang masuk SD kategori miskin ada 10 siswa, dan SMP ada 58 siswa. Sisanya mereka melakukan asesmen melalui mitra pribadi.

Baca juga:  Harga Sembako Masih Tinggi, DPRD Kota Semarang Minta Pemerintah Terus Lakukan Operasi Pasar

“Ini meningkatnya cukup drastis (jumlah pendaftar inklusi, Red.).Yang jelas pasti dari sosialisasi yang kita lakukan bisa dikategorikan lebih berhasil karena ternyata informasi ini bisa diketahui oleh semua lapisan masyarakat,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, kemarin.

Fajriah mengaku, total 130 pendaftar inklusi tahun ini merupakan jumlah yang terbanyak sepanjang sejarah di Kota Semarang. Jika melihat jumlahnya, sosialisasi tersebut dianggap berhasil dan kepedulian dari masyarakat terhadap pendidikan inklusif sudah terlihat.

“Mereka yang memiliki anak yang berkebutuhan khusus menyegerakan anaknya untuk mendaftar,” jelasnya.

Baca juga:  Antisipasi Kekerasan Seksual, Upgris Buka Seleksi Satgas PPKS

Fajriah menambahkan, ada tiga kategori anak yang didaftarkan melalui PPDB jalur inklusi berdasarkan hasil asesmen masing-masing. Mereka akan masuk ke sekolah regular, inklusi, dan sekolah luar biasa (SLB).

“Untuk SLB yang mana Kota Semarang masih berpacu pada pedoman Perwal dan Perda yang ada bahwa paling rendah untuk disabilitas yang masuk reguler yaitu anak disabilitas intelektual ringan. Jadi kalau anak itu dikategorikan berat maka akan direkomendasikan ke SLB,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan, dengan adanya pendaftaran sekolah pada anak inklusi, para siswa nantinya bisa mendapatkan layanan pendidikan terbaik. Pihaknya akan melakukan pemetaan untuk menyesuaikan batas maksimal siwa inklusi dalam satu rombongan belajar.

Baca juga:  Penuhi Standar Kompetensi JPT Pratama, BPSDMD Jateng Kembali Gelar PKN Tingkat II

“Maksimal ada tiga siswa inklusi dengan kategori ringan. Tapi kalau ada lainnya dua dalam satu kelas. Semua pemetaan dari kami. Kalau disitu ada dua pilihan sekolah kalau semuanya penuh maka akan kita sarankan untuk memilih sekolah alternatif berikutnya. Dan kami sajikan sekolah yang masih mau menerima siswa inklusi,” demikian kata Fajriah. (int/adf)