Kudus  

Gelar Wicara Bea Cukai Kudus Ungkap Sejarah Kretek dari Kudus

EDUKASI: Tampak narasumber Dr. Edy Supratno saat sedang memberikan informasi mengenai sejarah asal mula kretek. (HUMAS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Untuk pertama kalinya Bea Cukai Kudus mengadakan gelar wicara tentang sejarah asal mula kretek, perkembangan industri kretek. Serta peran pengusaha kretek pada masa kemerdekaan RI yang digelar kemarin, bertempat di Aula Gedung Colo Kantor Bea Cukai Kudus dengan narasumber Dr. Edy Supratno, seorang sejarawan, dosen, jurnalis, dan penulis buku.

Salah satu riset Dr. Edy yang fenomenal berkaitan dengan sejarah penemu kretek. Adagium hasil tidak akan mengkhianati usaha dan rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka nyata dibuktikan Dr. Edy. Setelah dia berhasil menemukan makam Djamhari di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Selamat Idulfitri 2024

Perjalanan menelusuri informasi-informasi yang didapat akhirnya dirangkai hingga menjadi sebuah buku. Yakni, Djamhari Penemu Kretek 100 Tahun Sejarah yang Terpendam dan Lika-liku Pencarian Jejaknya.

“Rasa penasaran yang menjadi semangat saya menelusuri keberadaan Djamhari. Hingga saya bisa membuktikan bahwa tokoh Djamhari, Sang Penemu kretek, memang ada. Saya bertemu dengan keturunannya, mengunjungi makamnya, dan mempunyai bukti-bukti keberadaannya,” ungkapnya kepada Joglo Jateng.

Baca juga:  Antisipasi Kerawanan, Bawaslu Kudus Gelar Koordinasi dengan Parpol

Gelar wicara ini diselenggarakan dalam kegiatan pembinaan mental (bintal) bidang ideologi bagi para pegawai Bea Cukai Kudus. Kepala Kantor Bea Cukai Kudus, Lenni Ika Wahyudiasti menyampaikan, untuk memahami sejarah kretek pada masa kemerdekaan RI menjadi kewajiban bersama.

Hal itu sebagai bagian dari peningkatan wawasan kebangsaan karena menghargai sejarah masa lalu adalah salah satu ikhtiar untuk kebaikan di masa depan.

Asal muasal istilah ‘kretek’ muncul ketika Djamhari, yang menderita sakit asma mencari cara untuk menyembuhkan sakitnya. Biasanya dia mengoleskan minyak cengkeh di dadanya, yang menyebabkan kulitnya melepuh.

Kemudian mencoba mencampur cengkeh dengan racikan tembakau yang dibungkus daun jagung, kemudian dibakar dan menghisapnya. Suara kretek-kretek muncul saat cengkeh terbakar. Sejak dari itu kretek mulai dikonsumsi di daerah Kudus. Meskipun Kudus bukan penghasil tembakau atau cengkeh, tetapi kretek berasal dari Kudus.

Baca juga:  Kasus Kematian Ibu dan Bayi di Kudus Menurun

Kaitannya dengan sejarah kemerdekaan RI, terungkap bahwa para pengusaha kretek ini menjadi bagian dari pengurus organisasi pergerakan nasional Indonesia. Seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam.

Para pengusaha kretek ini mendukung pergerakan kemerdekaan bukan hanya dari segi pendanaan, tetapi juga bantuan lain seperti penyebaran informasi, penyediaan tempat, dan bantuan lainnya. Maka tidak heran jika pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu memburu banyak tokoh yang berideologi nasionalis, termasuk para pengusaha kretek.

Salah satu pengusaha kretek dari Kudus yang paling terkenal saat itu adalah Nitisemito, dengan rokok kretek berlogo tiga lingkaran, yang orang-orang menyebutnya rokok merk Bal Tiga. Banyak peninggalan dari Nitisemito yang saat ini masih bisa dilihat di Kudus. Ini menjadi bukti sejarah bahwa Nitisemito adalah pengusaha rokok kretek pertama dan menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca juga:  Puluhan Sekolah Terdampak Banjir di Kudus Mulai Aktif KBM

Sementara itu, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi pada Bea Cukai Kudus, Sandy Hendratmo Sopan, menyampaikan bahwa acara bintal dengan tajuk Sejarah Kretek dan Peran Pengusaha Kretek Kudus saat Kemerdekaan RI itu disiarkan langsung di kanal YouTube. Supaya bisa ditonton oleh seluruh masyarakat dengan harapan dapat menambah pengetahuan tentang sejarah kretek yang berasal dari kota Kudus dan meningkatkan kecintaan pada negeri ini.

“Dari gelar wicara tentang sejarah kretek Indonesia ini, kita bisa tahu bahwa Djamhari adalah penemu kretek pertama di dunia dan Nitisemito adalah pengusaha pabrik rokok kretek pertama di dunia,” pungkasnya. (adm/fat)