DPRD Kota Semarang Minta Disdik Teliti saat Lakukan Asesmen Kategori Siswa Pendaftar Inklusi

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang meminta Dinas Pendidikan (Disdik) setempat untuk lebih teliti dalam melakukan asesmen pengelompokan siswa pendaftar sekolah inklusi.

Tujuannya untuk mengetahui kondisi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang akan melanjutkan pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP).

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo mengukapkan, dari asesmen ini nantinya akan muncul rekomendasi apakah anak layak untuk masuk ke sekolah reguler, inklusi, atau sekolah luar biasa (SLB). Sehingga, dalam hal ini pihak Disdik harus berhati-hati.

Baca juga:  Melly Segera Komunikasi dengan Semua Parpol

“Jangan sampai salah rekom atau salah ‘kamar’. Ini karena kalau anak itu sebenarnya bisa apa, disabilitasnya kategori ringan, dia masuk SLB ini dia akan tersiksa. Sebaliknya anak yang mestinya harus di SLB dia masuk sekolah reguler juga dia akan mengalami gejolak di pikirannya,” ucapnya saat dihubungi Joglo Jateng, Jumat (29/3/2024).

Lebih lanjut, ia menerangkan, pada prinsipnya asesmen ini menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Sehingga, jika diketahui, maka pemerintah dapat merekomendasikan sekolah yang tepat dan sesuai sasaran.

Berdasarkan informasi dari Disdik, pendaftar inklusi pada tahun ini merupakan jumlah yang terbanyak sepanjang sejarah di Kota Semarang. Menanggapi hal itu, Anang mengapresiasi kinerja dari Disdik yang mana telah menyosialisasikan penerimaan peserta didik baru (PPDB) inklusi ini dengan baik.

Baca juga:  Awas! Organisasi Ini bakal Hajar Serangan Fajar pada Pilkada 2024

“Memang sudah sejak lama kami pengin agar penjaringan terhadap anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendidikan ini harus bisa mendekati yang ada. Artinya tingkat partisipasi atau angka partisipasi anak-anak penyandang disabilitas ini bisa terjaring. Kemudian bisa disalurkan sesuai dengan penilaiannya. Apakah ini termasuk disabilitas ringan, sedang, atau yang berat,” jelasnya.

Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa dengan adanya penjaringan pada siswa inklusi ini, sekolah dapat memperbaiki kualitas pendidikan pada anak tersebut. Sebab, goal bagi ABK ini adalah mereka bisa hidup mandiri atau tidak ada ketergantungan.

Baca juga:  21 Desa di Jateng Alami Kekeringan

“Semakin dia dapat pendidikan lebih awal dan bermutu sesuai dengan bakat dan minat anak,” katanya.

Selanjutnya, terkait dengan persiapan sarana prasarana yang ramah anak difabel di lingkup sekolah, kata Anang, seharusnya hal itu juga harus dipenuhi. Karena semua sekolah di Ibu Kota Jawa Tengah sudah mendeklarasikan diri sebagai sekolah inklusi. (int/adf)