Kudus  

Lestarikan Budaya, Generasi Muda Belajar Buat Ketupat

GIAT: Para peserta menunjukkan hasil wadah ketupat dari pelatihan yang diselenggarakan Omah Dongeng Marwah (ODM) bersama STAI Syekh Jangkung. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari. Banyak hal yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia saat lebaran. Mulai dari salat id, bersilaturahmi dengan para tetangga dan saudara, hingga mudik ke kampung halaman.

Lebaran di Indonesia juga identik dengan sajian kue kering dan ketupat. Sepiring ketupat yang disantap bersama opor atau lauk lainnya menjadi hidangan yang kerap saat Hari Raya Lebaran tiba. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa lebaran belum lengkap tanpa makan ketupat.

Selamat Idulfitri 2024

Tradisi turun temurun ini dilestarikan generasi muda Omah Dongeng Marwah (ODM) bersama STAI Syekh Jangkung dengan membuat pelatihan membuat wadah ketupat. Dalam kegiatan ini, lebih dari 30 peserta yang terdiri siswa ODM dan perwakilan pengurus Forum OSIS Kudus juga menggelar diskusi sejarah ketupat dan kebudayaan Nusantara.

Baca juga:  Kukuhkan Simantik dan Duta Siaga DBD Perwakilan dari 9 Sekolah & 5 Perguruan Tinggi di Kudus

Pelatih pembuatan ketupat, Dwi Yuliastuti memaparkan, kegiatan ini bermanfaat untuk menambah wawasan generasi muda. Sebagaimana dibaca dalam hasil riset di berbagai jurnal dijelaskan, seorang pelancong dari China bernama I-Tsing mencatat ketupat sudah ada sejak abad ke-7 di Sriwijaya. Ketupat kemudian jadi warisan budaya di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara lainnya.

“Sebelum membuat wadah ketupat, kami berikan paparan dan ruang diskusi terkait sejarah dengan mendatangkan pemateri Sejarawan Kudus, Edy Supratno. Sementara pelatih pembuatan wadah ketupatnya dua orang dari ODM,” jelasnya, Minggu (31/3/24).

Baca juga:  Kasus Kematian Ibu dan Bayi di Kudus Menurun

Ia pun mengapresiasi antusias peserta yang merasa senang. Mereka mengaku jarang mendapat pelatihan seperti ini.

Event berlatih membuat ketupat ini hampir jarang ada di forum lain. Makanya mereka memanfaatkan kesempatan bahkan nampak bangga setelah bisa membuatnya meskipunya dalam jumlah yang terbatas,” ungkap Dwi.

Ia berharap, acara ini bisa menambah wawasan. Sekaligus menyadarkan generasi penerus bahwa tradisi yang ada harus dijaga sebaik-baiknya.

“Dari langkah kecil ini kami harapkan memberi semangat kepada generasi penerus untuk berperan aktif dalam mencintai kebudayaan warisan nenek moyang,” harapnya. (cr1/adf)