Jepara  

DKPP Jepara Deteksi Dini Kondisi Hewan Ternak

TINJAU: Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Jepara Mudhofir saat melakukan penyuluhan pengendalian PMK, Jepara, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara melakukan deteksi dini kepada hewan ternak yang ada di wilayahnya. Pengawasan ini dilakukan jauh sebelum hari raya Idul Adha 1445 H.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, DKPP Jepara Mudhofir mengungkapkan, pola perdagangan dari luar daerah masuk ke Jepara, membawa potensi virus pada hewan ternak. Penyakit tersebut seperti, penyakit mulut dan kuku (PMK), lumpy skin disease (LSD), dan bakteri bacillus anthracis (Antraks).

Selamat Idulfitri 2024

“Peternak membeli sapi satu truck dari luar daerah. Seperti di Sragen, Boyolali, Blora, dan Grobogan. Itu bisa rawan terhadap penularan penyakit,” paparnya.

Baca juga:  Diskopukmnakertrans Jepara Buka Posko Pengaduan THR

Ia menjabarkan, hewan ternak yang terpapar penyakit atau virus memiliki ciri-ciri tersendiri. Seperti, bintik-bintik atau disebut lato-lato, berbuih, kuku lepas, tidak mau makan, keluarnya cairan hitam atau darah dari lubang hidung, mulut, ataupun telinga.

Kemudian, pihaknya telah melakukan zero kasus pada hewan ternak yang ada di Jepara. Diantaranya, terdapat temuan penyakit LSD pada 8 ekor sapi di Desa Kaliaman, Kecamatan Kembang. 1 ekor sapi penyakit PMK di Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri. Serta 4 ekor sapi PMK di Desa Menganti, Kecamatan Kedung.

Meski demikian, pihaknya selalu mengecek serta melakukan pemantauan setiap harinya. Dengan melakukan pencegahan penyakit melalui vaksinasi dan pemberian vitamin pada hewan ternak yang terpapar penyakit.

Baca juga:  Tingkatkan Kreatifitas UMKM Melalui Branding

“Desa Kaliaman itu yang terkena virus satu kandang. Tapi yang positif satu ekor. Jadi, mau tidak mau semua hewan yang ada di kandang harus di vaksin walaupun ada yang tidak positif,” jelasnya.

Pihaknya menyatakan telah berkoordinasi kepada masyarakat baik secara personal maupun melalui petugas dinas. Sehingga, jika terdapat ternak dalam kondisi sakit, maka segera untuk melapor kepada dinas terkait.

Begitupula, peternak tidak boleh memotong ternak yang sakit tanpa pemeriksaan terlebih dahulu dari tenaga kesehatan, isolasi atau memisahkan hewan tersebut, membeli hewan yang telah di vaksin. Kemudian tetap mewaspadai adanya potensi virus atau bakteri lain yang mudah menular.

Baca juga:  Musrenbang 2024, Bappeda Jateng Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Jepara

“Prioritaskan untuk membeli hewan ternak yang ber Ear Tag (barcode yang disematkan pada telinga sapi, Red), sudah di vaksin, mendapatkan surat dari dinas, dan jangan terkecoh dengan harga hewan murah,” bebernya kepada Joglo Jateng.

Sementara itu, ia menambahkan bahwa ketersediaan hewan di Jepara dalam kondisi baik. Pada awal Ramadan masyarakat mulai melakukan gerakan masif untuk membeli ternak. Bahkan, dirinya menyebut, saat ini arus lalu lintas perdagangan ternak sangat kencang. (cr4/fat)