Tak Bergantung Beras, Pemprov Jateng Dorong Diversifikasi Pangan

Kepala Dishanpan Provinsi Jateng, Dyah Lukisari
Kepala Dishanpan Provinsi Jateng, Dyah Lukisari. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng terus mendorong diversifikasi atau keragaman pangan. Saat ini berbagai produk pangan alternatif dikenalkan agar masyarakat tidak bergantung pada beras.

Di antara yang dikenalkan, yakni beras analog, jagung, singkong, dan mie mocaf sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras padi. “Kita terus lakukan dengan pengenalan pangan lokal,” katanya pada Joglo Jateng, Rabu (3/4/24).

Selamat Idulfitri 2024

Dyah menyebut tujuan program ini untuk memperkuat ketahanan pangan. Juga untuk memenuhi konsumsi gizi seimbang dan aman bagi masyarakat. Program tersebut bagian dari edukasi dan pengenalan produk pangan lokal di berbagai daerah di Jawa Tengah. Sejauh ini, edukasi sudah dilakukan di 16 kabupaten.

Baca juga:  Semarak Ramadan di Semarang Barat, Festival Takjil dan Beragam Hiburan di Sepanjang Jalan Ronggolawe

“Tujuannya edukasi itu supaya masyarakat tahu bahwa selain beras ada juga sumber pangan lokal yang lain, yang gizinya justru lebih bagus. Misalnya sumber karbo, orang tahunya selama ini makan beras, begitu kita kenalkan ada jagung, ada umbi-umbian, itu masyarakat supaya paham bahwa nilai gizinya justru jauh lebih baik daripada beras karena gulanya rendah gitu,” jelasnya.

Meski begitu, kendala yang dihadapi adalah keterbatasan anggaran yang membuat program diversifikasi pangan ini kurang masif dilakukan. Namun pihaknya sudah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan agar program ini bisa masuk ke sekolah.

Baca juga:  Bank Jateng Gelar Pasar Sayuran Gratis Sepanjang Ramadan

“Saya sudah merencanakan akan masuk ke sekolah-sekolah melalui TOT (training of trainer) kepada para wakil kepala sekolah yang urusan siswa. Kita edukaasi tentang pentingnya pangan beragam, bergizi, seimbang, aman dan di dalamnya ada pangan lokal,” ucap Dyah.

Tidak hanya di sekolah, Dishanpan Jateng juga bekerja sama dengan kafe-kafe untuk mengenalkan bahan pangan alternatif pengganti beras padi kepada masyarakat.

“Jadi ini yang kami rombak, termasuk tadi kita mengenalkan ke cafe-cafe langsung, tapi itu juga butuh biaya tapi lebih murah daripada kita pelatihan-pelatihan, olahan pangan juga termasuk juga,” ucapnya. (luk/gih)