DKUKMPP Beri Respons soal Melemahnya Rupiah

Plt Kepala DKUKMPP Bantul Husin Bahri
Plt Kepala DKUKMPP Bantul Husin Bahri. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Beberapa hari terakhir, nilai rupiah semakin menunjukkan tren melemah dari Dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan per Rabu (17/4), sudah menyentuh di angka sekitar Rp16.238. Untuk itu, Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Bantul memberikan respons terkait dengan tren negatif nilai rupiah itu terhadap perekonomian di Kabupaten Bantul.

Plt Kepala DKUKMPP Husin Bahri menyampaikan, melemahnya rupiah terhadap dolar ini disebabkan oleh banyak faktor. Namun dia menyebut, penurunan nilai tukar rupiah ini jika dikaitkan dengan perekonomian di Bantul, belum menimbulkan dampak yang cukup berarti.

Baca juga:  Harga Bahan Pokok di Bantul Relatif Stabil

“Terkait dengan pelemahan rupiah, faktor penyebab yang membuatnya lemah itu banyak. Namun kalau berbicara secara umum terkait dengan aspek perekonomian di Bantul, mungkin terkait barang dan sebagainya tidak terlalu berdampak,” ungkapnya, Rabu (17/4/24).

Menurutnya, salah satu penyebab dari menurunnya nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh eskalasi konflik antar dua negara, yakni Iran dan Israel yang terjadi belakangan ini. Konflik ini pun dianggap dapat memberikan dampak terhadap suplai minyak Indonesia yang diimpor dari berbagai negara, yang salah satunya termasuk Iran.

“Jadi kalau kita lihat, sentimennya, rupiah melemah dari dolar itu disebabkan oleh kondisi konflik di timur tengah, yang di mana di situ terkait dengan sumber daya minyak. Sehingga, ketika eskalasinya semakin tinggi, akan mempengaruhi suplai minyak seperti di negara-negara seperti kita,” terangnya.

Baca juga:  Disnakertrans Bantul Gelontorkan Rp32,4 M untuk Program Padat Karya

Namun, perihal pelemahan ini akan berdampak terhadap naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), pihaknya belum bisa memberikan keterangan pasti. Hal ini karena kewenangan tersebut sepenuhnya dipegang oleh pemerintah pusat.

“Kalau harga minyak ini kewenangan di pemerintah pusat. Tapi pemerintah pusat sendiri sudah menyampaikan bahwa kondisi minyak dalam negeri sampai dengan sekarang ini masih mencukupi,” ujarnya.

Akan tetapi, pihaknya juga tidak menutup kemungkinan dengan terjadi peristiwa eskalasi konflik ini akan meningkatkan biaya untuk belanja BBM dalam negeri. Hal inilah yang kemudian berpotensi naiknya harga BBM. “Tapi untuk daerah sampai saat ini belum berpengaruh,” tambahnya.

Baca juga:  Konser Kompilasi Tari & Lagu Daerah Meriahkan Hardiknas di Sleman

Lebih lanjut dia menambahkan, dampak yang dimungkinkan akan sangat berpengaruh langsung terhadap Bantul yaitu melemahnya daya saing dan nilai ekspor dari produk-produk ekspor dari Bantul. “Jadi dengan melemahnya rupiah, otomatis barang kita akan mendapatkan nilai lebih murah. Sehingga pelaku ekspornya mendapatkan margin yang kecil,” pungkasnya. (nik/abd)