Budaya  

Tetap Eksis Jual Wayang Kulit di Tengah Arus Modernisasi

MENATA: Harno pedagang wayang kulit saat menjajakan produknya di Jepara, belum lama ini. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

DI tengah arus modernisasi, wayang kulit sudah mulai sedikit terasingkan. Bahkan, keberadaanya pun jarang ditemukan. Namun, di Jepara wayang kulit masih eksis di jajakan.

Harno, salah satu pedagang mainan wayang kulit asal Wonogiri yang kini menetap di Jepara mengungkapkan, dirinya mulai menggeluti wayang kulit selama lebih dari 10 tahun. Ia memilih menjual wayang kulit, lantaran produknya yang langka, unik, dan tidak semua pedagang menjualnya.

“Tertarik jualan ini karena tidak ada pesaingnya, kalau ada itupun sedikit. Di samping itu juga sebagai bentuk pengenalan warisan kepada generasi baru,” ungkapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Ia juga mengaku, tradisi kebudayaan seperti tradisi bulan syawalan dan sedekah bumi menjadi momen baginya dalam meraup keuntungan. Keuntungan yang didapat pun hampir dua kali lipat dibanding dengan hari biasa.

“Misalnya, kalau hari biasa mendapat Rp 100 ribu, di hari ramai sampai Rp 200 ribu,” ucap Harno.

Sebab sekarang wayang kulit jarang ditemukan, dirinya mencoba untuk melebarkan sayap penjualan sampai ke wilayah Demak. Menurutnya, pelebaran penjualan Jepara-Demak menjadi daerah strategis dalam menjual wayang kulit karena kepercayaan Wali Songo yang kental bagi masyarakat tersebut.

Wayang kulitnya dijual mulai dari Rp 20-45 per pcs. Tergantung dengan karakter dan kesulitan dalam pembuatannya.

“Walaupun terkadang di hari biasa tidak terlalu banyak pendapatannya, tapi cukup bagi saya,” tutur Harno.

Ia berharap, dengan penjualan wayang kulit yang ia jajakan di daerah Jepara-Demak mampu memperkenalkan kepada generasi sekarang terhadap warisan budaya di tengah arus modernisasi. Sehingga kesenian ini bisa terus dinikmati masyarakat.

“Semoga ke depannya wayang kulit tambah banyak penikmat,” ucapnya. (ara/adf)