Rumah Pelita, Ujung Tombak Penanganan Stunting

SEMARANG, Joglo Jateng – Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor Bagi Baduta (PELITA) menjadi ujung tombak penanganan stunting di Kota Semarang. Hingga kini sudah ada 10 Rumah Pelita yang menjalankan program day care atau taman penitipan anak tanpa biaya, salah satunya ada di Jalan Candi Pawon Timur III, Manyaran, Kota Semarang.

Pengasuh Rumah Pelita Manyaran, Lana Muthia Thaher, menyebut program ini bertujuan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan membantu orang tua dalam melaksanakan peran pengasuhan, pendidikan, perawatan dan perlindungan selama orang tua bekerja. Setiap Rumah Pelita saat ini menangani 10 anak stunting.

“Kami maksimal sepuluh anak dengan dua pengasuh dengan kualifikasinya pengajar. Ada juga satu ahli gizi. Jadi untuk karyawannya sendiri kami tidak asal ya,” katanya saat ditemui di Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  Semua Pihak Bergerak, Semarang Zero Kemiskinan Ekstrem

Rumah Pelita Manyaran merupakan pilot project di Kota Semarang bahkan di Indonesia. Sejak pertama buka pada 21 Februari 2023 lalu, ada 17 anak yang sudah lulus dari Rumah Pelita Manyaran. Lana mengaku sudah ada daftar waiting list-nya sebanyak tiga anak.

Anak-anak yang mengikutu program di Rumah Pelita berangkat dari pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 15.00 sore. Kegiatan yang dilakukan pun beragam, mulai dari sarapan, tidur siang, makan siang, makan snack, minum susu, bermain, belajar dan diakhiri dengan mandi sore sebelum pulang.

Baca juga:  PSI Buka Penjaringan Bakal Calon Pilkada untuk Umum

“Di sini anak-anak selain kita kontrol makannya hampir 75 persen kegiatan anak di sini itu makan, mereka juga kita ajak bermain dan setiap minggu kita kontrol berat badan (BB), tinggi adan (TB) dan Lingkar Lengan Atas (LiLA)nya. Alhamdulillah kalau di Manyaran sendiri anak rata-rata BB-nya naik 100 sampai 200 gram per minggu,” ungkapnya.

Selain kepada para baduta dengan stunting, Rumah Pelita juga menyelenggarakan program Kelas Ibu Hamil dengan KEK (Kekurangan Energi Kronis), yaitu ibu hamil dengan ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) di bawah 23,5 cm atau Indeks Massa Tubuh (IMT) pada pra hamil atau Trimester I (usia kehamilan ≤12 minggu) dibawah 18,5 kg/m2 (kurus).

Baca juga:  PSI Kota Semarang Belum Jajaki Koalisi dengan Parpol Lain

“Kita beri kelas parenting juga dengan orang tua seminggu sekali. Jadi kita juga edukasi dan intervensi orangtua,” tandasnya.

Lebih jauh, berdasarkan data yang dihimpun Joglo Jateng dari DKK Semarang, balita stunting di Kota Semarang ada sebanyak 825 anak atau 0,97 persen dari 85.003 balita. Dalam rangka penurunan prevalensi stunting di angka 14 persen pada 2024, Rumah Pelita ditargetkan bisa meluluskan anak stunting minimal dalam 3 bulan.

Adapun jumlah terbanyak stunting ada di Kecamatan Semarang Utara yaitu diangka 158 balita, kemudiam disusul Kecamatan Pedurungan 75 balita, lalu Kecamatan Ngaliyan 74. Sementara yang terendah ada di Kecamatan Tugu yaitu 17 anak. (luk/gih)