Jepara  

Duh! Puncak Panen, Harga Garam di Jepara Justru Turun

MEMBAJAK: Petani garam Kedungmalang tengah membajak sawah garam menjelang mulainya produksi garam, Kecamatan Kedungmalang, Jepara, belum lama ini. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Pada musim kemarau, harga garam di tingkat petani justru mengalami penurunan. Saat ini, harga mencapai Rp 1.000 per kilogram. Saat musim hujan bisa mencapai Rp 1.300 – 1.500 ribu per kilogram.

Petani asal Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Munawarto mengatakan, penurunan harga tersebut lantaran melimpahnya garam saat panen.

Sedangkan, tidak diimbangi oleh kebutuhan di kalangan tengkulak. Walaupun, musim kemarau saat ini sedang berpihak pada kondisi petani garam.

“Alhamdulillah untuk musim ini memang mendukung sekali ya. Karena bulan ini memasuki masa penjemuran garam. Tapi, harganya yang tidak mendukung,” ungkapnya.

Baca juga:  Pj Bupati Edy Supriyanta Kembali Pimpin Jepara

Kendala yang dihadapi petani garam, lanjut dia, sejauh ini karena faktor cuaca. Ketika cuaca buruk, hasil akan berkurang. Sedangkan ketika cuaca baik atau cerah, hasilnya lebih banyak.

Fluktuasi harga garam membuat petani resah. Utamanya saat harga anjlok. Meski begitu, ia mensiasati dengan menyetok garam sebanyak mungkin di lumbung miliknya.

“Misalnya, ketika musim panen satu hektar sawah bisa mencapai 100 ton sawah itu belum lahan lainnya. Jadi penyimpanan yang ada di lumbung bisa untuk satu musim panen berikutnya,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan petani garam lain, Syuhada mengaku turunnya harga garam ini terjadi sejak awal Mei 2024.

Baca juga:  Jelang Ajaran Tahun Baru, Disdikpora Jepara Masih Menunggu Regulasi

Hal tersebut menyebabkan pendapatan para petani ikut lesu. “Barang menumpuk, jadi harga diturunkan untuk pembeli,” paparnya.

Dengan itu, ia berharap, menjelang produski garam di musim ini, harga garam di pasaran dapat kembali stabil. Sehingga, para petani dapat merasakan buah manis pada saat musim panen tiba.

“Semoga nanti bisa kembali stabil, minimal di atas harga Rp 1.000 ke atas. Kalau di bawah Rp 1.000, petani garam guri dan tidak mendapat keuntungan,” pungkasnya. (cr4/fat)