Figur  

Keterbatasan tak Jadi Penghalang untuk Berkarya

Rafa Kusuma Atma Wibowo
Rafa Kusuma Atma Wibowo. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

MEMILIKI kekurangan bukan menjadi penghalang untuk mengembangkan kemampuan. Seperti dalang cilik Rafa Kusuma Atma Wibowo. Meskipun memiliki down syndrome, tidak menyurutkannya menirukan pewayang profesional untuk berkesenian dan menekuni dunia budaya.

Ayah dalang cilik Rafa Kusuma Atma Wibowo, Ludy Bimasena mengatakan, anaknya mulai menyukai wayang sejak umur tiga tahun saat orang tuanya membelikan compact disc wayang yang diambil per-scene. Lantaran, anak down syndrome tidak bisa melihat video dalam waktu lama.

Di mana dalam membelikan videonya, wayang dipilih yang atraktif seperti tancep kayon, perang kembang dan sebagainya. Karena sebagai penyandang down syndrome, Rafa tidak bisa memilih.

Baca juga:  Kejar Mimpi di Dunia Desain UI/UX

“Dengan sering dibelikan video wayang itu membuat Rafa menjadi suka dan terus menirukan gerakan dalang profesional. Dan sebagai kultur orang Jawa, kami ingin Rafa punya kelebihan, karena penyandang down syndrome adalah peniru yang hebat” ungkapnya.

Ia menambahkan, dipilihnya wayang tersebut karena bisa melatih motorik kasar dan halus, sinkronisasi pendengaran, dan juga olah rasa. Karena, anak down syndrome mengalami kesulitan bicara dan harapannya dengan memainkan wayang dapat stimulasi untuk terpicu berbicara, sehingga wayang dapat menjadi media terapi bagi anak down syndrome.

“Motorik kasarnya sangat bagus, untuk memutar gunungan sudah baik, di mana tidak setiap anak bisa melakukannya. Musik gamelan dapat untuk olah rasa dan menghaluskan perasaan agar tidak emosional” tambahnya. (riz/abd)