Kudus  

50 Persen Calon Jemaah Haji Kudus Didominasi Lansia

PRIORITAS: Nampak 1.395 calon Jemaah haji asal Kabupaten Kudus sedang menjalani praktik manasik. Dan 50 persennya merupakan kalangan lanjut usia atau usia di atas 60 tahun, belum lama ini. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Penyelenggaraan ibadah haji 2024 kembali mengusung tagline Haji Ramah Lansia. Tercatat dari 1.395 calon jemaah haji asal Kabupaten Kudus, 50 persennya dari kalangan lanjut usia atau usia di atas 60 tahun.

Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU), Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kudus, Asrul Fakhi mengatakan, layanan Haji Ramah Lansia dan disabilitas menjadi prioritas. Misalnya menempatkan jemaah lansia pada kursi prioritas (bisnis) saat dalam penerbangan, baik menuju ke Tanah Suci atau nanti ketika balik ke Tanah Air.

Menurutnya, berdasarkan evaluasi penyelenggaraan haji 2023, ada sejumlah kebutuhan layanan lansia yang tidak bisa secara optimal bisa diakses petugas. Untuk itu, keberadaan pendamping yang umumnya adalah keluarga menjadi penting.

Baca juga:  Sudaryono Sambangi Pedagang & Kulineran di Pasar Brayung

“Ada kebutuhan layanan di kamar mandi yang mungkin lebih pas jika keluarga yang mendampingi lansia. Detail ini diperhatikan agar jemaah nyaman beribadah,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan Surat Edaran (SE) No 2 Tahun 2024 tentang Mekanisme Pengkloteran dan Penyusunan Pramanifes. Dalam edaran Dirjen PHU, diatur bahwa penyusunan pramanifes penerbangan perlu memberikan pelayanan kepada jemaah lanjut usia dan disabilitas. Dengan ketentuan pengguna kebutuhan kursi roda dan menu khusus bagi jemaah haji lansia dan risiko tinggi (risti) wajib diinput pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

Baca juga:  Dispertan Kudus Fasilitasi Pelatihan Pengolahan Daging

“Nantinya juga untuk jemaah haji lanjut usia, disabilitas, dan risiko tinggi diberikan  tanda status prioritas pada kolom keterangan pramanifes. Serta penempatan pada kursi bisnis, kursi prioritas, atau kursi posisi di depan dalam pesawat,” bebernya.

Ditambahkannya, penempatkan petugas kesehatan lebih dekat dengan jemaah haji risti tepatnya di kursi bagian depan, tengah, dan belakang dalam pesawat. Untuk mempertimbangkan jemaah haji lansia yang ikut Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) agar tidak terpisah dari pembimbingnya.

“Sebagai pertimbangan kondisi kesehatan jemaah haji risiko tinggi, maka pada kloter awal diupayakan meminimalisir jumlah jemaah haji lansia dan risti,” imbuhnya.

Baca juga:  Empat Jemaah Haji Asal Kudus Dapat Perawatan Intensif

Asrul mengimbau agar semua jemaah memperhatikan kesehatan masing-masing. Baik sebelum pemberangkatan, pelaksanaan haji, hingga waktu pulang nanti. Misalnya dengan istirahat, olahraga atau minum booster.

“Yang penting para jemaah bisa mengukur kemampuan masing-masing. Khususnya dalam menjalani ibadah sunah sebelum puncak ibadah haji terlampaui,” imbaunya.

Sementara itu, seorang Jemaah asal Hadipolo, Sumarni mengaku siap mengikuti prosesi Ibadah Haji. Ia yang akhirnya bisa berangkat di usia ke-71 tahun itu mendaftar di tahun 2012.

“Latihan manasik dan lain-lain sudah dijalankan. Tinggal menunggu hari H nya di 29-30 Mei nanti. Semoga lancar hingga selesai,” harapnya. (cr1/fat)