Kudus  

Disdikpora Kudus Sebut Larangan Study Tour Perlu Kajian

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar, Anggun Nugroho
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar, Anggun Nugroho. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kegiatan study tour tengah menjadi sorotan. Buntut kejadian tergulingnya bus study tour di Subang, Jawa Barat yang menyebabkan tewasnya 11 siswa.

Bahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (Disdikbud Jateng) melakukan penegasan larangan study tour dengan mengeluarkan nota dinas nomor 421.7/00371/SEK/III/2024. Dalam surat tersebut tertulis, Gerakan Bangga Berwisata di Indonesia secara kelembagaan yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan belum diizinkan dilaksanakan sampai dengan ditetapkan kebijakan lebih lanjut.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Harjuna Widada melalui Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar, Anggun Nugroho mengaku turut berbela sungkawa terhadap musibah yang terjadi di Subang tersebut.

Menurutnya kejadian tersebut memancing tanggapan dari berbagai pihak termasuk larangan diadakannya study tour. Akan tetapi, kata dia, saat ini pun belum ada arahan khusus dari Pemkab Kudus terkait hal tersebut.

Baca juga:  320 Madrasah Komitmen Jadi Madrasah Aman dan Sehat

“Kami bersama sekolah dan dinas telah mendiskusikan hal ini. Dan terkait larangan tersebut kami masih menunggu arahan dari Pemkab,” ungkapnya kepada Joglo Jateng saat ditemui di ruangannya pada Kamis, (16/5/2024).

Menurutnya, kebijakan terkait larangan study tour perlu kajian mendalam. Sebab, musibah yang terjadi merupakan kesalahan teknis di beberapa hal yang perlu dievaluasi dan diperhatikan kembali.

“Kegiatan study tour bukan titik masalahnya. Tetapi kesalahan yang ada harus diperbaiki. Pun jika ada suatu titik kesalahan kalau bisa tidak seketika menganulir atau menghilangkan,” tandasnya.

Dikatakannya, dalam pelaksanaan kegiatan study tour kenyamanan dan keamanan harus diperhatikan pihak sekolah maupun travel. Misalnya dengan pengecekan rutin dan kehati-hatian.

Baca juga:  Proses Penjaringan Calon Kepala Daerah DPC Partai PKS Kudus Terus Berlanjut

“Sekolah dan pihak terkait harus memastikan armada yang dipakai aman dan tidak membahayakan siswa,” katanya.

Sementara, terkait adanya keberatan bagi siswa dengan orang tua menengah bawah terhadap iuran study tour. Hal tersebut bisa diakali dengan subsidi silang oleh siswa yang lain. Sehingga tidak ada yang merasa diberatkan.

“Sedangkan kalau ada yang bilang bahwa ada permainan uang dalam study tour, yang dibenahi tentu adalah pihak-pihak terkait. Dan apabila ada orang tua yang memang tidak bisa mempercayai sekolah, kepanitiaan study tour bisa ditangani oleh paguyuban orang tua,” imbuhnya.

Anggun menilai, kegiatan study tour masih memiliki nilai positif. Salah satunya upaya pembelajaran luar kelas  agar siswa dikenalkan dengan lingkungan dunia nyata, peninggalan sejarah atau lokasi observasi.

Baca juga:  Pemdes Ngembal Kulon Bangun 55 Titik Jalan

Khawatirnya, lanjut Anggun, jika tidak ada kegiatan semacam itu. Anak-anak justru bisa pergi sendiri dan tidak ada yang bertanggung jawab.

“Kalau kami melihat sisi positif dari study tour masih lebih banyak. Hanya saja kami di Disdikpora bagaimanapun tetap mengikuti arahan pemkab,” sambungnya.

Akan tetapi, papar Anggun lebih lanjut, kegiatan tersebut harus menjadi kesepakatan berbagai pihak. Dan harus ada dukungan. Jika ada potensi kecurangan atau bahkan memberatkan salah satu pihak agar bisa dikomunikasikan ke sekolah ataupun dinas.

“Sekarang sudah eranya media sosial dan untuk berkomunikasi pun lebih mudah. Maka tidak perlu menjadi kekhawatiran,” paparnya. (cr1/fat)