Kudus  

Sulap Sampah Jadi Alat Serba Guna

OLAH: Anri Irawan menunjukkan hasil produksi alat rumah tangga di rumahnya Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kudus, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

MELALUI ide dan kreatifitasnya, masyarakat Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus menyulap sampah anorganik menjadi alat serba guna. Hal ini mendorong pemanfaatan sampah mengandung nilai ekonomis.

Pengelola sampah, Andri Irawan menjelaskan, dia mengolah sampah masyarakat desa untuk diolah kembali sebagai peralatan rumah tangga. Sampah tersebut dipilah yang anorganik. Seperti plastik, tali rafia, karung plastik itu dijadikan sebagai bahan utamanya.

“Bahan itu diolah menjadi pegangan gergaji, tutup cornes, pion sangkar burung dan pegangan golok. Itu yang saya produksi setiap harinya,” ucapnya.

Baca juga:  Dishub Kudus Segera Lengkapi Zoss untuk Menunjang KLA

Untuh bahannya, dia mengumpulkan sampah-sampah plastik dari warga sekitar dan tempat rosok setiap seminggu dua kali. Kemudian dia memproduksi bahan itu dengan cara melelehkan plastik menjadi bubur, lalu di proses menggunakan mesin cetakan.

“Dengan begitu, cetakan tadi dibentuk sesuai dengan pesanan yang akan diproduksi. Kemudian, didiamkan mengeras menjadi alat serba guna,” tambahnya.

Sesuai dengan permintaan, dia terus memproduksi barang-barang itu untuk kebutuhan pabrik kertas untuk yang tutup cornes. Setiap bulannya mampu memproduksi 15.000 buah dengan berbeda-beda ukuran.

“Permintaan yang masih rutin setiap bulannya itu tutup cornes karena selama pabrik itu masih produksi ya permintaan pembuatan tutup itu di sini. Berdeda dengan pegangan gergaji, pegangan golok dan pion sangkar burung, itu kami produksi sesuai permintaan,” jelasnya.

Baca juga:  Hari Lingkungan Hidup, 500 Rumput Vetiver Ditanam Guna Cegah Longsor

Dia menambahkan, barang-barang yang diproduksi ini sudah pernah melakukan penyetoran di luar kota sampai ke Jakarta. Untuk sekarang ini, permintaan dari tahun ke tahun mulai menurun.

“Yang menjadi kendala sekarang adalah mesin cetaknya kurang canggih. Karena ini masih memakai mesin kuno, belum bisa menghasilkan kualitas bahan yang maksimal,” ujarnya. (cr3/fat)