Bantul-Kota Sepakati Olah Sampah Bersama di ITF Bawuran

MENGAMATI: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat melihat sejumlah alat pengolahan sampah modern di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. (ANTARA/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul dan Pemerintah Kota (Kota) Yogyakarta menyepakati pengolahan sampah bersama di Intermediate Treatment Facility (ITF) yang berlokasi di Bawuran Pleret Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kesepakatan itu ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Bupati Bantul Abdul Halim Muslih dan Penjabat Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo di Kepatihan Yogyakarta, belum lama ini.

“Pembangunan infrastruktur ITF diperkirakan selesai akhir Mei ini. Awal Juni direncanakan operaisonal,” kata Abdul Halim Muslih, belum lama ini.

Abdul Halim menjelaskan, di ITF, sampah di Bantul dan Kota Yogyakarta akan dipilah, diolah, kemudian untuk sampah residu bakal dikarbonasi. Dengan begitu, seluruh proses pengolahan sampah tuntas di tempat itu.

Baca juga:  Peserta Seleksi Carik Tamanan Bantul Ajukan Nota Keberatan, Kalurahan Lepas Tangan

ITF di Bawuran diperkirakan mampu mengolah sampah dengan kapasitas maksimal hingga 100 ton per hari. “Tapi itu bertahap, tidak bisa langsung 100 ton,” katanya.

Kemudian di lokasi bersebelahan dengan ITF, Pemkab Bantul segera membangun Bantul Recycling and Green City (BRGC) sebagai sarana mengubah sampah hasil olahan menjadi produk panel atau papan untuk bahan bangunan bernilai ekspor. “Itu masih dalam rintisan, karena menggunakan teknologi tinggi dengan investasi lebih dari Rp400 miliar. Pemerintah hanya memfasilitasi infrastruktur pendukung, tapi alat-alat mesinnya nanti swasta,” kata Abdul Halim.

Selain ITF yang diperkirakan baru beroperasi pada Juni 2024, Kabupaten Batul telah memiliki Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPTS) sistem 3R (reduce reuse recycle) yang telah beroperasi di beberapa kelurahan dengan kapasitas 1-5 ton per hari. Saat ini Bantul juga tengah membangun TPST di Modalan Banguntapan, dan TPST di Dingkikan, Argodadi, Sedayu.

Baca juga:  E-Manajemen Karier Jogja Unggul Pantau Talenta Pegawai

Insya Allah dengan ini tidak hanya mengolah sampah Bantul, karena kami diamanahi Ngarsa Dalem (Gubernur DIY) untuk mengelola sampah dari luar Bantul, yakni dari Kota Yogyakarta,” ungkapnya.

Sementara itu, Penjabat Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo menuturkan, rata-rata sampah di wilayahnya mencapai 200 ton per hari, di mana 100 ton di antaranya telah diolah di dua TPS 3R di Nitikan dan Kranon, Kota Yogyakarta. Sejak April 2024, Kota Yogyakarta juga telah mengirim sekitar 30 ton sampah per hari ke Bantul.

Baca juga:  Keterwakilan PPK Perempuan di Bantul Capai 34 Persen

Selain itu, TPS 3R baru di Karangmiri, Kota Yogyakarta juga ditargetkan beroperasi mulai Juni 2024 dengan kapasitas hingga 25 ton sampah. “Sisanya masih 60 ton, maka itu yang kami tawarkan (kerja sama di ITF),” ungkapnya

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, lahan di Kota Yogyakarta yang terbatas membuat pengolahan sampahnya sebagian harus diproses di Kabupaten Bantul. Sultan berharap, selain Bantul dan Kota Yogyakarta, kerja sama serupa juga bakal tumbuh di kabupaten lain di DIY, sehingga dapat memproses sampah menjadi barang atau produk-produk bernilai.

“Sampah yang selama ini dianggap barang buangan menjadi suatu yang bermanfaat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat yang menghasilkan sampah,” kata Sultan HB X. (ara/abd)