Disnakertrans Bantul Gelontorkan Rp32,4 M untuk Program Padat Karya

Kepala Disnakertrans Bantul Istirul Widiastuti
Kepala Disnakertrans Bantul Istirul Widiastuti. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bantul menggelontorkan Rp32,4 miliar anggaran Bantuan Keuangan Khusus (BKK) untuk program padat karya. Adapun program tersebut diharapkan mampu menggerakkan perekonomian lokal masyarakat Bantul.

Kepala Disnakertrans Istirul Widiastuti menyampaikan, anggaran kegiatan padat karya berupa infrastruktur ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sementara itu, lokasi padat karya ini berada di 300 titik yang tersebar di seluruh wilayah Bantul.

“Program padat karya ini dilangsungkan di 300 lokasi yang tersebar di 17 kapanewon yang ada di Bantul. Jadi sebelumnya, untuk menentukan titik-titik itu, kami telah melakukan proses identifikasi lokasi terlebih dahulu, apakah lokasi itu layak atau tidak untuk padat karya,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Last Minute, Haris Resmi Daftar Cawabup Sleman

Dijelaskan bahwa program padat karya ini terdiri dari dua paket pengerjaan. Pertama yaitu padat karya dengan paket pengerjaan sebesar Rp100 juta rupiah sebanyak 274 lokasi dan paket pengerjaan Rp200 juta rupiah untuk 24 lokasi.

“Antara paket Rp100 juta dan Rp200 juta ini sebetulnya tidak ada bedanya. Bedanya hanya terkait dengan serapan tenaga kerjanya. Kalau paket Rp100 juta itu serapan tenaga kerja sebanyak 26 orang, sedangkan untuk paket Rp200 juta serapannya dua kali lipatnya, yaitu 52 orang,” jelasnya.

Pembangunan infrastruktur padat karya ini terdiri dari bangunan yang sifatnya sederhana, namun memberikan dampak langsung pada masyarakat. Di antaranya yaitu pengecoran jalan, pembukaan jalan baru, talut jalan, dan saluran irigasi tersier untuk aktivitas pertanian.

Baca juga:  Fasilitasi UMKM Kembangkan Usaha Serat Alam

“Selain itu, mungkin ada pula jembatan lingkungan sederhana, kemudian bangun yang memberikan nilai ekonomi produktif bagi masyarakat, misalnya los pasar, pendopo di tempat wisata dan sebagainya,” terangnya.

Meski program ini bersifat sementara untuk membantu angkatan kerja penganggur, setengah penganggur, dan warga miskin, tapi hasil dari pembangunan infrastruktur fisik ini nanti diharapkan bisa menimbulkan dampak yang baik bagi masyarakat. Salah satunya yaitu mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Meskipun itu sementara, harapannya ini nanti mampu menggerakkan ekonomi lokal di lokasi. Kalau yang terlibat mendapatkan upah, paling tidak warung-warung di sekitar juga bisa laku. Multiplier effect-nya seperti itu,” tandasnya. (nik/abd)