Batang  

Disperpuska Batang Fasilitasi E-Perpus untuk Siasati Maraknya Teknologi Digital

BACA: Terlihat salah satu siswi tengah membaca di mobil Perpusling di Halaman MTs NU Batang, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Hadirnya gadget, semakin menggeser keberadaan buku yang menjadi pusat pengetahuan. Maka dari itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Kabupaten Batang memfasilitasi E-Perpus yang dapat diunduh melalui Playstore, belum lama ini.

Pustakawan Ahli Muda Disperpuska Batang Sutiawati menyampaikan, teknologi digital makin marak menjangkiti anak hingga dewasa. Namun, perpustakaan tetap memegang tali kekang, agar tetap bisa mengambil peran penting mencerdaskan kehidupan generasi muda. Serta, walau tuntutan modernisasi dunia literasi terus menghimpit, para pemustaka tetap menunjukkan kegilaan pada buku konvensional.

Baca juga:  Pemkab Rembang Kembali Raih Opini WTP Laporan Keuangan

“Kami menyiasatinya dengan memfasilitasi dengan E-Perpus Batang yang bisa diunduh lewat Playstore. Kami tidak khawatir, buktinya selama dua tahun belakangan ini koleksi buku terus bertambah. Mulai dari cerita fiksi memenuhi dahaga imajinasi anak-anak usia pelajar, hingga kaum ibu yang menjajaki dunia kuliner lewat buku-buku resep masakan konvensional,” ujarnya, belum lama ini.

Sementara itu, salah satu siswi MTs NU Batang Nyimas Wulansari mengatakan, kegemarannya membaca memang tak bisa dibendung. Namun jika melihat intensitasnya lebih tertarik pada gadget daripada buku.

“Kalau baca buku novel di rumah bisa 3-4 jam. Tapi kalau pakai gawai baca novelnya bisa sampai 6 jam, karena lebih asyik dan tampilannya lebih menarik,” ucapnya.

Baca juga:  Pemkab Rembang Kembali Raih Opini WTP Laporan Keuangan

Sedangkan, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Nabila menyampaikan, persaingan sengit itu tak berlaku baginya. Pasalnya buku dinilai jendela dunia yang begitu mempesona, seolah gunungan ilmu pengetahuan yang patut digali sedalam mungkin.

“Buat saya malah lebih hemat pakai buku konvensional. Karena tidak mengeluarkan biaya. Kalau gawai harus beli kuota dan sebagainya, jadi saya pilih buku fisik,” jelasnya.(hms/sam)