Kenang Pahitnya Tragedi Mei 98, Perkumpulan Sosial Rasa Dharma Sajikan Rujak Pare Sambal Kecombrang

AKTIVITAS: Tamu undangan beragama Islam saat mengantri mengambil rujak pare sambal kecombrang di Rasa Dharma (Boen Hian Tong) Jalan Gang Pinggir No.31, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, belum lama ini. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

MEMAKAN sajian rujak pare sambal kecombrang menjadi salah satu kegiatan yang digelar Perkumpulan Sosial Rasa Dharma (Boen Hian Tong) untuk mengenang pahitnya tragedi kericuhan pada Mei 1998 di Jakarta. Akibat kejadian itu, banyak korban tak bersalah kehilangan nyawanya.

Perkumpulan Sosial Rasa Dharma mengundang berbagai tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam kegiatan ini. Seperti contohnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), pemilik pondok pesantren, dan lain sebagainya.

Ketua Panitia, Andi Gunawan mengatakan, sajian rujak pare sambal kecombrang diinisiasi oleh Ketua Waroeng Semawis Harjanto Halim yang mengimajinasikan kepahitan itu dengan sayur pare. Pihaknya ingin mengenang tragedi itu dengan cara yang sederhana.

Baca juga:  Mayat Perempuan Ditemukan Mengapung di Dermaga Nelayan Tambaklorok

“Kami sudah mulai (kegiatan mengenang tragedi Mei 98, Red.) sejak 13 Mei 2019. Tujuannya intinya kami tidak menghakimi siapa yang benar ataupun yang salah yang penting hal yang sudah terjadi ini dijadikan sebagai peringatan,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

INZET: Sajian rujak pare sambal kecombrang untuk mengenang pahitnya tragedi kericuhan pada Mei 1998 di Jakarta. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

Sajian rujak pare sambal kecombrang menjadi simbol kepahitan. Adanya kecombrang melambangkan wanita Tionghoa yang saat itu dikoyak-koyak hingga menerima pelecehan seksual oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Dalam sekali gigitan kita bisa merasakan pahitnya. Selain itu, tujuan paling penting supaya generasi ke depan bisa memahami hal ini supaya jangan sampai terjadi lagi,” jelas Andi.

Baca juga:  Disdikbud Jateng Kembali Tegaskan Larangan Study Tour

Rangkaian acara dalam agenda ini di antaranya sembayang kepada tuhan pengingat ciptaan tuhan yang selalu dihormati. Lalu, menyematkan bunga sedap malam yang mana sebagai simbol kematian.

“Bahwa kami mendoakan supaya arwah korban tragedi Mei 98 supaya tenang. Kemudian simbolis makan rujak pare sambal kecombrang dan refleksi cerita dari para saksi mata tragedi Mei 98,” lanjut Andi.

Sementara itu, salah satu saksi mata Tragedi Kericuhan Mei 98 asal Jombang, Budi Harto (56) menceritakan luka yang paling mendalam saat itu. Dirinya mengaku ikut merasakan sakit hatinya warga Tionghoa yang ada di Jakarta pada saat itu. Salah satu penyiksaan paling nyata, yakni pemerkosaan terhadap wanita etnis Tionghoa.

Baca juga:  Pemkot Semarang Komitmen pada Penyelenggaraan HAM

Sampai saat ini, ia menjelaskan, salah satu temannya masih trauma atas kejadian itu. Sehingga memilih untuk pindah ke Singapura.

“Ya karena tidak mau mengingat kejadian perkosa sampai pingsan. Dia sampai sekarang tidak mau cerita soal masa lalu itu,” pungkasnya. (int/adf)