Kudus  

Kemenag Kudus Sampaikan Empat Indikator Moderasi Beragama

SAMPAIKAN: Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kudus, H Suhadi, memberikan materi moderasi beragama dalam sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung C Komplek Kantor Bupati Kudus, Selasa (21/5/24). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng –  Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H Suhadi, menyebutkan, agama merupakan modal utama mewujudkan kehidupan yang lebih baik, aman, nyaman dan berkualitas. Sebagai masyarakat yang hidup dengan ragam suku, budaya hingga agama yang berbeda maka dibutuhkan moderasi.

“Moderasi sebagai sikap tengah dan menghargai perbedaan harus ditanamkan mulai bangku sekolah, majelis, dan forum-forum semacam ini. Agar praktik beragama tidak cenderung ekstreme,” ujarnya dalam sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang digelarBadan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kudus, Selasa (21/5/24).

Baca juga:  Desa Japan Kudus Masuk 300 Besar Nominasi ADWI Kemenparekraf

Suhadi menjelaskan, ada empat indikator moderasi beragama. Yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal.

“Dalam hal toleransi para pemuka agama harus memiliki peran penting sebagai agen moderasi beragama. Khususnya untuk mendiseminasikan nilai-nilai moderasi beragama kepada masyarakat binaan dengan mengintegrasikan muatan moderasi beragama dalam materi pembinaan,” ujarnya.

Ketiga, anti kekerasan. Ia menjelaskan ciri masyarakat moderasi beragama tidak menjadikan perbedaan sebagai alat konflik. Termasuk tidak membenturkan agama dengan negara yang imbasnya adalah perpecahan.

KOMPAK: Jajaran Bakesbangpol Kudus, Kepala Kantor Kemenag Kudus, dan Ketua FKUB Kudus sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, Selasa (21/5/24). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

“Sementara, pada indikator kedua yaitu komitmen kebangsaan. Kewajiban bagi setiap orang harus bisa menjaga dan mencintai tanah air,” sambungnya.

Baca juga:  Dispertan Kudus Fasilitasi Pelatihan Pengolahan Daging

Dan yang terakhir dalam moderasi beragama harus menghormati tradisi dan budaya lokal. Lebih lagi, Indonesia memiliki tradisi dan budaya yang luar biasa yang semuanya harus dihormati.

“Sehingga bagaimana cara kita bisa menghormati keragaman budaya dan tradisi ini merupakan tugas kita bersama,” tandasnya. (cr1/fat)