Langkah Penanganan dan Penanggulangan HIV: Kesadaran Bersama untuk Kebaikan Semua

KOORDINASI: Sejumlah staf bersama Koordinator Pendukung Sebaya (KPS) saat melakukan rapat bulanan bersama di Kantor PEKA Jalan Mahesa Utara I No.438, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Jumat (3/5/2024). (DOK.PRIBADI/JOGLO JATENG)

HIV/AIDS merupakan penyakit berbahaya yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Kebiasaan-kebiasaan seperti berhubungan seksual yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik yang tidak steril saat memakai narkoba dapat menyebabkan timbulnya HIV. Seperti yang dialami salah seorang warga Kota Semarang, WB.

Pada 1994 silam, ia kerap diajak oleh rekan kerjanya mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu setiap malam setelah pulang kerja. Selain itu, ia juga sempat kerap berganti-ganti pasangan.

“Saya berhenti di dunia malam tahun 2002 karena ada masalah dengan hukum. Karena saat itu pemakai (narkoba, Red.) harus ditahan (dipenjara, Red.). Itu aturan dari pemerintah. Akhirnya saya berhenti tapi minumnya masih jalan, semua jenis alkohol sudah saya rasakan. Akhirnya tidak saya ketahui, saya (kemudian, Red.) terinfeksi HIV jenis B20 pada tahun 2006,” jelasnya saat ditemui Joglo Jateng, Sabtu (11/5/2024).

Alih-alih merasa terpuruk, ia bersemangat untuk mencari informasi seputar penanganan HIV dengan mencari dokter yang tepat selama seminggu. Dari pengetahuan yang ia dapat, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa sehat dan menikah seperti orang normal asalkan tidak absen minum obat.

“Teman-teman care. Mereka datang ke rumah dan memberikan dukungan. Tetangga gak ada yang tau. Yang pasti mereka taunya saya peminum,” ungkapnya.

Seiring menjalani pengobatan, WB kemudian juga ikut memberikan testimoni dan sosialisasi mengenai cara penanggulangan HIV. Baik melalui pertemuan, workshop, dan kegiatan lain yang diadakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang.

“Yang awalnya (masyarakat, Red.) mereka punya stigma kepada teman-teman ODHA jadi lebih paham dan welcome. Kita ingin maju dan berubah, kita harus positive thinking. Kalau negatif pasti gak berubah,” tuturnya.

Baca juga:  Pemprov Jateng Berhasil Pertahankan Opini WTP 13 Kali Berturut-turut

Ia juga mengaku pernah bekerja di Indonesia Aids Coalition (IAC). Dirinya bertugas memastikan keberadaan stok obat HIV dari pemerintah tercukupi di Ibu Kota Jawa Tengah.

“Ini panggilan Tuhan untuk mengedukasi masyarakat yang terkena HIV dan membantu mereka agar tidak kekurangan obat,” kata WB.

Penanggulangan HIV di Kompleks Argorejo Semarang

Kompleks Argorejo Semarang sudah ditetapkan sebagai wilayah bebas prostitusi. Praktik transaksi seksual kini sudah tak boleh dilakukan di kawasan eks lokalisasi yang populer dengan sebutan Sunan Kuning tersebut.

Koordinator Lentera Asa Sunan Kuning (SK), Ari Istiadi mengungkapkan, pihaknya tidak memungkiri jika ada kemungkinan para pemandu karaoke atau biasa disebut LC (lady companion) yang bekerja di sana mendapat ajakan pengunjung untuk melakukan transaksi seksual. Namun jika ajakan itu diiyakan, maka LC dan pengunjung diberi peringatan agar tidak melakukannya di ruang karaoke Kompleks Argorejo.

Pemantauan kesehatan termasuk untuk menanggulangi HIV, kata Ari, juga rutin dilakukan. Pemandu karaoke juga diwajibkan melampirkan hasil tes kesehatan untuk mendapat Kartu Izin Kerja (KIK).

“Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pemandu karaoke maupun dari Pakar (Paguyuban Pemandu Karaoke). Pertama, pemantuan kesehatan untuk LC dengan mewajibkan cek kesehatan sebelum mendapatkan KIK disini,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, jika ditemukan masalah HIV pada pekerja, maka pihaknya memulangkan orang yang bersangkutan tersebut, serta tidak diperkenankan lagi bekerja di Argorejo.

“Kedua, kami juga melakukan VST (voluntary counseling and testing, Red.) rutin setiap tiga bulan sekali dengan bekerja sama dengan Puskesmas Lebdosari dan Dinkes Kota Semarang. Alhamdulillah sampai detik ini kita belum menemukan pemandu karaoke yang terkena HIV,” tuturnya, belum lama ini.

Baca juga:  Jateng Beri Pembebasan dan Diskon Pajak Kendaraan Bermotor "Spesial Untung 4X Lipat"

Kota Semarang Catat 219 Kasus HIV sejak Awal 2024

Sejak Januari sampai 12 Mei 2024 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat ada sebanyak 219 kasus HIV dengan kumulatif total penemuannya sebanyak 7.252 kasus. Sebanyak 54,3% di antaranya adalah orang yang berdomisli di Kota Semarang, dan sisanya berdomisili di luar Kota Semarang.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengungkapkan, berdasarkan jenis kelamin, 77,3 persen orang yang terdiagnosis sebagai ODHA adalah laki-laki dan 23,7 persennya perempuan. Kemudian dari status kelompok beresiko dimayoritasi 38,6 persen dari laki-laki seks laki-laki (LSL).

“Daerah temuan terbanyak HIV baru tahun 2024 di Kecamatan Pedurungan, Semarang Utara, dan Tembalang. Obat didistribusikan melalui faskes layanan perawatan dukungan pengobatan (PDP),” terangnya.

Jenis obat yang banyak digunakan, lanjut Hakam, adalah Tenofovir Lamivudin Dolutografir (TLD). Tiap bulannya, dinkes mendistribusikan rata-rata 1.200 botol TLD dan 400 botol Tenofovir Lamivudin Efavirens (TLE).

“Kota Semarang memiliki inovasi kinerja dalam memberikan edukasi HIV pada masyarakat dimana setiap puskesmas sebagai pemilik wilayah memiliki target kegiatan penyuluhan ke sekolah dengan sasaran pada guru SMP dan SMA,” kata dia.

Sampai dengan 4 Mei 2024, pihaknya sudah menyasar 159 sekolah, 1.016 siswa, dan 1.912 guru. Sementara kegiatan penyuluhan di masyarakat sudah dilaksanakan di 250 lokasi dan 4.689 warga.

Upaya Pendampingan dari LSM

Pengidap HIV sering kali mendapat stigma negatif dan mengalami diskriminasi. Hal inilah yang menjadi pendorong terbentuknya Yayasan Sehat Peduli Kasih, yang awalnya merupakan sebuah Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) bagi Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Salatiga.

Baca juga:  Jelang Iduladha, Dispertan Kota Semarang Segera Keluarkan SE Pengawasan dan Penjualan Hewan Kurban

Koordinator Pendukung Sebaya Yayasan Sehat Peduli Kasih (PEKA), Dwi Harianto mengatakan, data penyintas HIV yang sedang didampingi oleh pihaknya sudah mencapai 16.614 dan tersebar di Provinsi Jawa Tengah sejak awal tahun 2023 hingga 10 Mei lalu.

Angka ODHA tertinggi jatuh pada Kota Semarang dengan total 1.372 ODHA, sedangkan terendah di wilayah Kabupaten Pekalongan sekitar 135 ODHA.

“Program yang dilakukan kami di antaranya pertemuan dengan ODHA satu kali per semester. Kedua, notifikasi pasangan yaitu pertemuan dengan penyintas HIV membawa pasangannya langsung dan mereka di cek HIV,” kata Dwi, belum lama ini.

Ketiga, lanjutnya, program Penguatan Kapasitas Pengasuh Anak dengan HIV yang berkolaborasi dengan Dinkes. Lalu, tracking lost to follow up. Yakni pendampingan yang dilakukan kepada pasien HIV/AIDS terutama pada pasien yang sudah tidak melakukan pengobatan selama kurun waktu tertentu.

“Orang dengan HIV yang putus obat lebih dari tiga bulan kalau memang obatnya tidak diambil kita tracking ditanya kenapa gak diambil. Terakhir kita membantu mengisi sosialisasi untuk menyampaikan informasi terkait HIV,” lanjutnya.

Sosiolog sekaligus Akademisi Unika Soegijapranata, Hermawan Pancasiwi menjelaskan, keterlibatan dari yayasan maupun komunitas ODHA yang memberikan pendampingan terhadap ODHA berperan sangat positif.

“Terlepas apakah para penyintas itu akan bisa sembuh atau kembali sehat, mereka bisa disadarkan bahwa hidup masih ada dan tetap berlangsung. Tidak seorangpun (termasuk dokter, Red.) tahu kapan hidup ini akan berakhir (termasuk bagi ODHA, Red.). Sehingga sisa waktu harus tetap diisi dengan suka cita dan kebajikan,” ucapnya. (int/adf)