Pati  

Perbaikan Jalan Alternatif Pati-Grobogan Butuh Rp 500 Juta

RUSAK: Tampak seorang pengendara sedang melintas jalan alternatif Pati-Grobogan mengalami longsor, belum lama ini. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Ruas jalan alternatif Pati-Grobogan mengalami longsor. Jalan yang tergerus longsor itu tepatnya berada di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati.

Camat Tambakromo, Mirza Nur Hidayat mengungkapkan, longsornya jalan itu terjadi pada dua bulan lalu. Kejadian tersebut disebabkan tingginya intensitas hujan saat itu.

“Itu jalan penghubung antar kabupaten. Kejadiannya pada 14 Maret sekitar jam 15.30 sore. Karena curah hujan tinggi mengakibatkan jalan yang berada di Desa Larangan itu mengalami longsor,” kata Mirza, belum lama ini.

Ia merincikan, separuh jalan tersebut hilang terbawa longsor. Yakni dengan lebar kurang lebih mencapai 3 meter.

Baca juga:  Penyuluh Agama Diajak Lestarikan Lingkungan

“Kurang lebih lebarnya 3 meter. Panjangnya plus retakannya kurang lebih 12 meter. Kedalam longsornya 1 meter,” sebutnya.

Dengan kondisi itu, pengendara harus bergantian melintasi jalan tersebut. Mirza mengaku pemerintah telah berupaya melakukan beberapa langkah supaya akses jalan tersebut tidak terganggu.

“Pengamanan lokasi bersama Polsek Tambakromo, dipasang police line di lokasi. Kami mengupayakan kerja sama dengan Perhutani supaya bahu jalan yang sebelah kiri bisa buat manuver kendaraan. Kita petakkan kepada perhutani untuk dibuka akses. Sehingga manuver kendaraan dari arah timur maupun barat tidak mepet di dekat longsor,” terangnya.

Baca juga:  Ratusan Koper Calon Jemaah Haji Asal Pati Dikirim ke Boyolali

Saat ditanya terkait rencana perbaikan, Mirza menyebut ruas jalan itu akan diperbaiki pada 2025. Sementara anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan kurang lebih mencapai Rp 500 juta.

“Akan dikerjakan di tahun 2025. Karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Kurang lebih Rp 500 juta,” bebernya.

Besarnya anggaran tersebut, kata Mirza, karena kondisi jalan itu yang berada di area tanah berkontur miring. Sehingga perlu dibangun talud terlebih dahulu.

“DPU sudah survei juga. Butuh penanganan yang cukup lumayan. Karena 1 meternya di urug tidak menyelesaikan masalah. Karena bawahnya perlu ada talud. Sehingga butuh dana yang cukup besar,” pungkasnya. (lut/fat)