Pati  

Kekeringan di Pati Diprediksi Lebih Parah, BPBD Siap Distribusi Air Bersih

KONDISI: Tampak warga Desa Tambahagung Tambakromo Pati sedang mengambil bantuan air bersih, belum lama ini. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Kekeringan di Kabupaten Pati pada musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih parah daripada tahun sebelumnya. Mengingat musim kemarau akan berlangsung lebih panjang.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Martinus Budi Prasetyo mengungkapkan, pihaknya di awal musim kemarau ini sudah menerima satu laporan kekeringan. Yakni dari warga Desa Tambahagung Kecamatan Tambakromo Pati.

“Baru Desa Tambahagung, Tambakromo yang sudah meminta bantuan air bersih. Artinya selain Desa Tambahagung belum ada yang mengalami kesulitan air bersih,” ungkapnya.

Baca juga:  Kecewa Keputusan KPU Pati, Kantor PPK Jakenan Disegel

Meskipun begitu, ia memperkirakan sejumlah wilayah di daerahnya terancam mengalami kekeringan pada musim kemarau ini. Di antaranya yakni wilayah di Eks Kawedanan Jakenan dan Eks Kawedanan Kayen.

“Eks Kawadenan Jakenan itu Kecamatan Jaken, Jakenan, Winong, Pucakwangi, kemudian di tambah Batangan. Kemudian kalau eks Kayen itu mulai Tambakromo, Gabus dan Sukolilo,” bebernya

Martinus menyebut wilayah-wilayah tersebut sudah menjadi langganan bencana kekeringan. Setelah sebelumnya juga dilanda bencana banjir.

“Kalau di Pati itu wilayah yang mengalami banjir di musim penghujan itu akan mengalami kekeringan di musim kemarau. Jadi ketika musim hujan tidak ada tanaman yang mampu menahan air, karena air langsung turun ke bawah dan mengakibatkan tidak mata air yang bisa dimanfaatkan,” sebutnya.

Baca juga:  Henggar Ingatkan Anak Buahnya untuk Taat Hukum

Saat ditanya terkait langkah penanganan, pihaknya mengaku telah bersiap untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang terdampak. Sedangkan penanganan jangka panjang, BPBD Pati akan bekerjasama dengan instansi lainnya.

“Upaya kami membantu kebutuhan dasar masyarakat, air bersih. Kita layani, kita dropping air bersih. Sedangkan penyelesaian yang lebih permanen dan berkelanjutan itu tidak di BPBD. Tapi melibatkan instansi lain. Misalnya pembuatan sumur dalam,” pungkasnya. (lut/fat)