Opini  

Penderita Tuberkulosis Paru dan Dukungan Kesembuhannya

Ni Luh Devi Yanti, S.KM

Oleh: Ni Luh Devi Yanti, S.KM
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

PENYAKIT tuberkulosis paru merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian teratas dan penyebab utama dari satu agen infeksi. Menurut WHO, pada tahun 2023 Indonesia merupakan negara kedua yang berada dalam daftar 30 negara dengan beban tuberkulosis paru tertinggi di dunia setelah India.

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini bisa masuk ke paru-paru dan menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas serta batuk berkepanjangan.

Gejala yang ditimbulkan penyakit tuberkulosis paru yaitu batuk berdahak yang berkepanjangan, batuk yang dialami dapat disertai dengan dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, serta demam lebih dari satu bulan.

Bakteri tuberkulosis bisa masuk ke tubuh ketika seseorang menghirup bakteri tuberkulosis. Bakteri ini dapat menetap di paru-paru dan berkembang biak. Dari sana, bakteri dapat berpindah melalui darah ke bagian tubuh lainnya seperti ginjal, tulang, sampai ke otak.

Baca juga:  Menuju Langit Sehat Semarang: Transportasi Ramah Lingkungan demi Terwujudnya SDG’s No. 11

Penyakit tuberkulosis yang berkembang di paru-paru, tenggorokan, atau saluran pernapasan bisa sangat menular dari satu penderita ke orang di sekitarnya. Penderita tuberkulosis paling mungkin menularkan penyakitnya kepada orang sekitar yang menghabiskan waktu bersama paling sering setiap hari seperti anggota keluarga, teman dekat, rekan kerja, atau teman sekolah.

Namun, pada dasarnya penularan penyakit tuberkulosis paru tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua orang menghirup udara yang mengandung bakteri tuberkulosis akan lansung menderita tuberkulosis.

Pada kebayakan kasus, bakteri yang terhirup ini akan terdiam di paru-paru tanpa menimbulkan penyakit atau menginfeksi orang lain. Bakteri tetap ada di dalam tubuh sambil menunggu saat yang tepat untuk menginfeksi, yaitu ketika daya tahan tubuh sedang lemah.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penularan tuberkulosis paru. Yaitu vaksinasi pada bayi sebelum 2 bulan, menggunakan masker terutama saat berinteraksi dengan penderita tuberkulosis, rajin mencuci tangan, menutup mulut saat bersin atau batuk, tidak membuang dahak atau meludah sembarangan, jangan tidur sekamar dengan penderita tuberkulosis, dan khusus untuk penderita tuberkulosis menggunkan masker ketika berinteraksi dengan orang sekitar untuk membantu mengurangi resiko penularan.

Baca juga:  Jaga Kesehatan Ibu dan Bayi dengan Pemeriksaan USG Kehamilan

Meskipun tuberkulosis paru merupakan penyakit yang menular, tetapi penderita tuberkulosis paru tidak untuk dijauhi, namun diberikan dukungan untuk sembuh karena pengobatannya memerlukan waktu yang cukup lama yaitu enam bulan.

Maka dari itu penderita tuberkulosis memerlukan dukungan motivasi untuk memulai pengobatan hingga menjalaninya sampai tuntas. Karena jika pengobatan yang dilakukan penderita tuberkulosis paru tidak tuntas maka akan menyebabkan peningkatan penularan, resistensi obat, hingga kematian.

Dukungan untuk kesembuhan penderita tuberkulosis paru harus bersifat holistik dan melibatkan berbagai pihak. Bukan hanya pemerintah saja, tetapi juga harus ada dukungan dari masyarakat, keluarga, dan petugas kesehatan.

Kebijakan dukungan dari pemerintah sudah diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Dimana pemerintah telah melakukan beberapa upaya dalam rangka mencapai target eliminasi tuberkulosis paru tahun 2030. Yaitu dengan melakukan imunisasi BCG pada bayi sebelum berusia 2 bulan, melakukan surveilans aktif dan pasif tuberkulosis, melakukan Gerakan TOSS (temukan dan obati sampai sembuh), melakukan TPT (terapi pencegahan tuberkulosis) pada kelompok yang laten, dan peningkatan kapasitas fasilitas pelayanaan kesehatan tuberkulosis.

Baca juga:  Apa Manfaat Rekam Medis Elektronik bagi Masyarakat?

Sementara masyarakat berperan memberikan edukasi dan informasi mengenai tuberkulosis paru, mengurangi stigma terhadap penderita, dan membentuk kelompok dukungan di tingkat komunitas.

Dukungan dari keluarga seperti dukungan emosional membantu mengingatkan jadwal pengobatan, dan membantu dalam perawatan sehari-hari. Petugas kesehatan juga berperan melalui penyuluhan dan edukasi, pendekatan empati, pemantauan teratur, serta motivasi dan konseling untuk membantu pasien mengatasi stres dan kecemasan terkait penyakit yang diderita. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari pemerintah, masyarakat, keluarga, dan petugas kesehatan untuk bersama-sama menyukseskan program ini.(*)