Wujudkan Digitalisasi Konservasi Mangrove Menggunakan IoT

PROSESI: Peresmian Digitalisasi Konservasi Mangrove antara Indosat dan Undip, di Kampus FEB Undip, Senin (27/5/24). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Universitas Diponegoro (Undip) bersama Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) dan Global System for Mobile Communication Association (GSMA) membuat program Digitalisasi Konservasi Mangrove untuk mengantisipasi dampak abrasi di pantai utara Jawa. Sistem ini dibuat untuk mewujudkan digitalisasi konservasi mangrove menggunakan Internet of Things (IoT) di Jawa Tengah.

“Kami harap dengan kolaborasi ini, pelaksanaan program Digitalisasi Konservasi Mangrove dapat berjalan secara efektif dan optimal. Sehingga memberikan dampak positif yang sebesar-besarnya. Tidak hanya bagi pelestarian lingkungan, tapi juga bagi peningkatan perekonomian masyarakat pesisir utara Pulau Jawa,” kata Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Tri Winarni Agustini, Senin (27/5/24).

Baca juga:  KemenPUPR Serahkan Rumah Apung Tambaklorok ke Pemkot

Nantinya program ini akan dilaknakan di area tambak Desa Morodemak seluas 1 hektare. Winarni mengaku telah memiliki tim yang akan bekerja untuk ini.

“Kami memiliki sejumlah pakar terkait konservasi mangrove dan FPIK siap mendukung penerapan IoT Indosat. Termasuk analisis data serta penentuan lokasi program di area tambak desa Morodemak seluas 1 hektare,” jelasnya.

Director and Chief Business Officer IOH, Muhammad Buldansyah mengatakan, isu perubahan iklim menjadi perhatian olehnya, khusus di daerah pantai utara Jawa. Oleh karena itu, lewat program Digitalisasi Konservasi Mangrove di Semarang ini, Indosat berkomitmen mendukung upaya pengendalian abrasi lewat pelestarian vegetasi pantai utara Jawa.

Baca juga:  Lokasi Penyembelihan RPH Penggaron Sudah Siap 90 Persen

“Kami melihat bahwa abrasi kini telah menyebabkan banyak wilayah pesisir terendam, termasuk lahan produktif,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, kata dia, Indosat menghadirkan solusi Internet of Things (IoT) berupa teknologi Silvo-fishery. Teknologi ini merupakan pengembangan sistem akuakultur yang menggabungkan teknologi perikanan dengan penanaman mangrove, dan turut dilengkapi dengan sistem manajemen yang mampu mengurangi dampak pada lingkungan.

“Dengan teknologi Silvo-fishery, Indosat mengandalkan kekuatan IoT-nya untuk memonitor kualitas air dan produktivitas tambak perikanan. Sekaligus melestarikan ekositem mangrove di dalamnya,” tandasnya. (luk/adf)