Kerusakan Lingkungan Kian Masif, KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030

SUASANA: Sosialisasi Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 Region Jawa di Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Hotel Tentrem, Rabu (29/5/24). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar Sosialisasi Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 Region Jawa di Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Hotel Tentrem, Rabu (29/5/24). Sosialisasi ini guna merespon kerusakan lingkungan di Jawa Tengah kian masif.

Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK RI) Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Dr Tasdiyanto menyampaikan kondisi alam di Jawa Tengah memprihatinkan.

Berdasar data dari KLHK, area tutupan lahan hutan di Jateng pada 2024 tinggal 18,91 persen dari total luas daratan yang mencapai 32,5 ribu kilometer persegi. Sedangkan luas area penggunaannya mencapai 81,6 persen. Serta lahan kritis dan sangat kritis mencapai 733.441 hektare.

Baca juga:  Walisongo Halal Center Gelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Juru Sembelih Halal

“Kondisi lingkungannya kurang baik ternyata lahan kritisnya,” jelasnya.

Sebab itu untuk bisa merehabilitasi lahan kritis tersebut, lanjutnya, tidak hanya dari pemerintah pusat saja. KLHK bekerjasama dengan akademisi telah menyusun Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 Region Pulau Jawa.

Rencana itu memuat rencana aksi mitigasi dan adaptasi serta upaya-upaya menyerap biomassa karbon dan emisi untuk pengendalian perubahan iklim dengan pendekatan daya dukung dan daya tampung air, tingkat kekritisan lahan, kerawanan erosi dan limpasan di Region Jawa.

“Sehingga ditargetkan ada tujuh aksi mitigasi rencana operasional di Region Jawa,” imbuhnya.

Baca juga:  Jateng Terima 400 M untuk Penanganan Stunting

Sementara Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno menyampaikan pihaknya mendukung berbagai upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Salah satunya diwujudkan dalam ikut andil pada agenda sosialisasi ini. Menurutnya agenda itu merupakan strategi Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca untuk pengendalian perubahan iklim.

“Kami sangat menyambut baik adanya FOLU 2030. Karena berbicara penanganan lingkungan, kita sudah bergerak sejak dahulu dalam mengatasi kerusakan lingkungan,” ungkapnya

Ia akan berkolaborasi dengan stakeholder terkait untuk sosialisasi dengan berbagai pendekatan. Di antaranya melalui pendekatan agama dan kearifan lokal, sehingga targetnya bisa tercapai.

Baca juga:  Jateng Beri Pembebasan dan Diskon Pajak Kendaraan Bermotor "Spesial Untung 4X Lipat"

Jawa Tengah dengan kepadatan dan karakteristik penduduknya yang beragam, diperlukan kearifan lokal dan pendekatan keagamaan agar strategi penurunan emisi GRK dapat dipahami masyarakat. “Sosialisasi sudah kita lakukan. Kami sangat berterimakasih karena adanya program nasional FOLU ini, maka kolaborasi lebih kuat lagi,” tandasnya. (luk/gih)