Pastikan Kualitas Hewan Kurban, DKPP Bantul Lakukan Pemantauan

SAMBANGI: Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo saat melakukan pemantauan sapi di Padukan Lor, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, belum lama ini. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Menjelang hari raya Iduladha, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul lakukan pemantauan hewan kurban. Hal ini dilakukan guna memastikan hewan kurban yang tersedia di Bantul dalam kondisi aman untuk dijadikan kurban.

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo menyampaikan, pemantauan hewan kurban ini sudah mulai dilakukan sejak awal Mei lalu. Adapun pemantauan ini dilangsung di tempat penampungan ternak, pedagang, maupun di pasar-pasar hewan yang ada di Kabupaten Bantul.

“Tujuannya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat Bantul yang ingin berkurban Iduladha tahun 2024 ini,” ungkapnya saat melakukan pemantauan di tempat penampungan hewan kurban milik bapak Ahmad Suwardi, Padukan Lor, Tirtonirmolo, Kasihan, kemarin.

Baca juga:  Joko Tepis Isu Rekomendasi DPP PDIP

Menurutnya, berdasarkan prediksi DKPP, jumlah hewan kurban yang dibutuhkan Bantul tahun ini hampir sama dengan tahun lalu. “Di tahun 2023 lalu, kebutuhan hewan kurban sekitar 7.000 ekor sapi. Lalu untuk kambing maupun domba hampir 16.000 ekor dengan jumlah titik pemotongan 2.200 lebih,” terangnya.

Joko juga mengatakan, dari hasil pemantauan yang mereka lakukan, bisa dipastikan bahwa kondisi hewan kurban di Bantul dalam kondisi aman. “Dari 2.200 titik itu, sampai sekarang kita belum menemukan ternak yang terkena penyakit atau ternak yang tidak layak di kurbankan,” ujarnya.

Baca juga:  Cacing Hati Ditemukan pada Puluhan Hewan Kurban di Bantul, Daging Aman Dikonsumsi

Sementara itu, salah satu pedagang sapi kurban, Ahmad Suwardi mengatakan, dirinya menyediakan hewan sapi dengan harga mulai dari Rp18 juta rupiah hingga yang tertinggi sebesar Rp26 juta rupiah. Di pun mengaku tingkat permintaan tahun ini stabil atau masih sama dengan permintaan tahun sebelumnya.

Di mengatakan, tahun lalu mampu menjual sapi sekitar 80 ekor. Sementara tahun ini, meskipun sudah habis terjual, jumlahnya sapi yang disediakan tersebut hanya sebanyak 63 ekor. Sehingga, meskipun pesanan masih banyak, dia terpaksa harus menutup permintaan karena kesulitan mencari stok barang.

Baca juga:  KPU Bantul Tingkatkan Pelayanan Pemilih Disabilitas

“Permintaan tahun ini stabil seperti tahun kemarin. Hanya saja ketersediaan barangnya yang menurun,” ucapnya, Rabu (29/5/24).

Menurutnya, kendala ketersediaan sapi di tempatnya berkurang disebabkan oleh dua faktor. Pertama yakni pengaruh penyakit kuku dan mulut (PMK) yang menyebabkan petani di wilayah tempat mengambil sapi, yakni Sadeng dan Rongkop, Gunungkidul tidak beternak lagi.

“Lalu yang kedua, harga di tingkat petani itu sekarang sangat tinggi karena setiap kampung yang di luar kampung peternak tempat saya membeli tersebut mengajak pengurus kampung membeli di kampungnya. Sehingga harga sapi sangat tinggi,” pungkasnya. (nik/abd)