UMKM  

Kebanjiran Order Boneka Unta Tiap Musim Haji

PROSES: Karyawan Barokah Toys tengah manata boneka unta di rumah produksi di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kamis (30/5/24). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

BAROKAH Toys sukses menjadi produsen boneka dan suvenir yang menjadi langganan ketika musim haji tiba. Seperti pada usaha milik Kusnan (49) dan sang Istri yang kini juga sering menjadi langganan pesanan suvenir haji, baik dari Kudus dan bahkan hingga luar Jawa.

Saat ditemui Joglo Jateng di rumah produksinya di RT 02, RW 03, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kusnan, mengaku selalu banjir orderan jelang musim haji. Sejak Januari lalu, ia bersama 10 karyawannya mulai produksi pesanan gantungan kunci dan boneka unta sebagai hewan khas Saudi Arabia.

“Kami memang sudah membuka pesanan jauh-jauh hari. Agar produksi tetap bisa maksimal. Karena di momen seperti ini pesanan meningkat 20 persen dan jumlahnya ribuan. Tetapi pesanan biasanya ramai justru setelah pulang haji. Terkadang juga pertengahan menjelang kepulangan, pihak keluarga dari yang naik haji datang ke sini untuk order suvenir,” ungkapnya, Kamis (30/5/24).

Pesanan biasanya datang dari biro haji, distributor, toko, hingga pribadi. Mereka memesan beragam jenis suvenir. Mulai dari gantungan kunci, boneka berdiri, boneka duduk, model bordir, bantal leher, dan lain sebagainya.

“Produksi sehari rata-rata 50 hingga 100 buah. Tergantung tingkat kesulitan barang yang dibuat,” imbuhnya.

Pria yang memiliki dua putra itu menjual gantungan kunci seharga Rp 8 ribu. Sedangkan harga boneka motif unta mulai dari harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.

“Harga bergantung ukuran boneka beserta motifnya. Dan suvenir tersebut dapat lebih murah bergantung jumlah pembelian dari konsumen,” katanya.

Berdiri sejak 2011, Barokah Toys selalu menggunakan beragam bahan berkualitas untuk membuat boneka. Mulai dari velboa, rasfur, vanel, dan nylex.

“Kita buat produk fokus dengan kualitas dan integritas. Apalagi boneka ini merupakan mainan yang dipegang anak-anak. Sehingga harus aman secara bahan hingga pemasangan bagian mata boneka,” tandasnya.

Kusnan menceritakan, penamaan Barokah berawal dari nama usaha yang dimiliki oleh keluarganya. Karena ingin mandiri, ia bersama sang istri memutuskan membangun usaha produksi boneka.

“Orang tua dulu sudah punya usaha toko mainan dan aksesoris. Dengan modal percaya diri dan semangat, saya dan istri membuka peluang usaha sendiri. Saya bagian desain, istri kelola produksi dan karyawan,” paparnya.

Pada awal membangun usahanya, Kusnan mengaku mendapat berbagai kritik dari para pedagang. Akan tetapi demikian itu membuatnya terus belajar dan memperbaiki diri.

Sebagai upaya edukasi dan promosi, ia sering menerima kunjungan dari lembaga sekolah. Para siswa tidak hanya mendapatkan materi dan edukasi mengenai kualitas boneka. Namun mereka juga ikut praktik langsung dalam pembuatan boneka.

“Kami edukasi anak-anak dan orang tua hingga guru agar mengetahui boneka yang berkualitas dan aman. Per kunjungan kami batasi maksimal 100 siswa agar penyampaian dan praktik lebih efektif,” katanya. (cr1/adf)