Kudus  

Kudus Masuk Peringkat Tiga untuk Kabupaten Terkaya se-Jateng

LINTAS: Saat pengendara tengah melewati tugu Kabupaten Kudus, Jawa Tengah belum lama ini. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kabupaten Kudus yang berjuluk Kota Kretek pada tahun ini masuk peringkat tiga kabupaten terkaya se-Jawa Tengah. Peringkat pertama Kota Semarang, kedua Kota Cilacap, dan yang ketiga Kudus. Hal itu dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus, Eko Suharto saat ditemui belum lama ini.

Berdasarkan pengamatan Joglo Jateng, banyak berita tentang Kabupaten Kudus dikatakan sebagai kabupaten terkaya se-Jateng. Jika dilihat dari sektor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), suatu indikator yang mana digunakan untuk mengukur seluruh kegiatan ekonomi di Kudus.

“Untuk Kudus ada di peringkat ketiga setelah Kota Semarang dan Kota Cilacap. Tahun 2023 besaran PDRB di Kudus atas dasar berlaku sebesar Rp 121.310.45 milliar. Kalau dari sisi pendapatan perkapita tahun 2023, nilainya sebesar Rp 138,70 juta,” ujar Kepala BPS Kudus Suharto.

Baca juga:  Triwulan Pertama, Penggadai di Kudus Didominasi Emas

Ia menjelaskan, untuk PDRB dihitung dari sektor seluruh nilai kegiatan ekonomi atau nilai tambah kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Jadi, nilai yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dalam wilayah itu dihitung barulah disebut PDRB kalau di regional. Contohnya PDRB Jateng dan PDRB Kudus.

“Kalau secara nasional kita menyebutnya PDB. Artinya nilai tambah kegiatan ekonomi yang dihasilkan di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan Kudus sendiri didominasi oleh kegiatan industri pengelolaan, jadi proporsi struktur PDRB Kudus terbesar itu sebesar Rp 78 persen,” tukasnya.

Sedangkan untuk sumbangannya 22 persen kurang lebih. Jadi kalau dilihat di Kudus yang cukup besar nilai tambah secara ekonomi dari industri hasil tembakau. Menurutnya itulah yang menjadi penyumbang terbesar struktur PDRB di Kudus. Lalu kalau atas dasar kontans itu harganya dibuat tetap menggunakan harga tahun dasar.

Baca juga:  Perkuat Pondasi Sepak Bola Putri Melalui Ajang Turnamen Bergengsi

“Jadi kita ingin melihat perkembangan nilai produksinya. Kita menggunakan tahun dasar 2010, contohnya air mineral. Ketika air mineral di tahun 2010 seharga Rp 500 rupiah, lalu dilihat perkembangannya selama 13 tahun, nah itu harga 2023 anggap saja seribu. Berarti sudah ada perubahan harga sebanyak 500 rupiah,” bebernya.

Namun, kata dia, apabila menggunakan perhitungan tahun dasar maka tahun 2023, pihaknya tetap menghitung di angka Rp 500 rupiah. Sebab, BPS Kudus juga ingin melihat jumlah kisaran produksinya. Jadi, 2010 hingga 2023 perubahan jumlah produksinya ada berapa, nah dengan cara membuat harganya sama dengan tahun 2010. (adm)