Kudus  

Mengupas Romantisme Dua Penulis Muda dalam Bedah Buku

PAPARAN: Tampak anak muda meramaikan kegiatan bedah buku, Sabtu (1/6/2024). (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Dua penulis muda asal Kabupaten Kudus, melahirkan sebuah karya sastra di penghunjung Mei 2024. Dua buku dibedah dan didiskusikan di Warung Kopi Baca (Warkoba), Dersalam, Kudus, Sabtu (1/6/2024).

Agenda malam itu bertajuk Mikirin Karya. Sebuah gagasan kolaborasi antara Warkoba dengan komunitas kolektif Tikusputih.co. membincang buku kumpulan puisi Barbagi Rokok Bersama Bapak karya Afif Khoirudin Sanjaya dan Serupa Aksara karya Nazrey Firmani.

Menghadirkan dua narasumber, bedah buku Serupa Aksara dan Berbagi Rokok Bersama Bapak turut memantik ekosistem literasi di Kudus. Beni Dewa selaku pembedah pertama mengutarakan pendapatnya mengenai karya sastra yang ditulis Firmani sangat layak jika dikembangkan menjadi novel.

“Saya kira menarik, namun di sepertiga akhir terkesan tergesa-gesa. Ini akan jadi lebih lengkap ketika bisa dikembangkan menjadi sebuah novel,” ujar Beni.

Baca juga:  PPDB SMA 2024 Sediakan Ada Empat Jalur

Dia mengungkapkan bahwa tidak ada yang ‘alay’ atau berlebihan dalam sebuah penulisan, termasuk sastra. Menurutnya, Firmani berhasil membangun cerita yang runtut dengan tokoh utama.

“Kisah-kisah yang ditulis Firmani semacam perjalanan cinta dengan mantan kekasihnya, dari awalnya tidak kenal hingga bisa menjalin sebuah hubungan berlatar kehidupan kampus,” tambahnya.

Beni Dewa menambahkan bahwa buku “Berbagi Rokok Bersama Bapak” ini menunjukkan kedekatan seorang anak terhadap ayahnya.

“Saya langsung tertarik ketika di awal sudah disambut dengan kalimat bapakku seorang arsitek bagian pelaksana,” ujarnya.

Menurut Beni, tidak semua anak laki-laki bisa menunjukkan perasaan kepada ayahnya. Lewat puisi tersebut, Afif seperti ingin mengungkapkan romantisme kecil penulis dengan ayahnya.

“Entah itu saling berbagi rokok saja atau tidak, tetapi yang jelas penulis berhasil menggugah emosi pembaca, dengan puisi-puisi yang dekat, ia menunjukkan anak laki-laki juga bida akrab dengan bapaknya,” katanya.

Baca juga:  Larangan Pungli dalam PPDB Dipertegas

Sementara itu, pembedah kedua Siwi Agustin menyebut bahwa Serupa Aksara ini ditulis dengan bahasa yang jujur dan mudah dipahami.

“Dengan bahasa yang jujur, berlatar imaji tempat kos, kampus dan peristiwa-peristiwa yang dirangkum cukup cepat,” papar Siwi.

Pegiat Seni di Teater MinabTani Pati itu juga menyampaikan bahwa buku ini dapat dikemas ulang menjadi Senandika atau dialihkan menjadi monolog.

“Saya memperagakan penulis sebagai tokoh berdiri di depan panggung, kemudian menceritakan ini lewat monolog,” ujarnya.

Selain itu, menurut Siwi, buku ini juga bisa lebih menarik ketika penulis membuat sekuel dalam cerita di buku tersebut.

“Harusnya tidak bisa selesai langsung menjadi buku, harus ada yang disisakan untuk tokoh cerita.  Tentu akan menarik ketika dipotong menjadi sekuel, ditulis dengan jujur dari awal sampai akhir,” terangnya.

Baca juga:  Fathkhur Rohman Terpilih Jadi Ketua PCPM Pasuruhan

Beralih ke kumpulan puisi yang ditulis Afif pada 2021 lalu, Siwi menyebut karya Afif ini sangat merepresentasikan diri penulis. Siwi melihat bagaimana keberanian dan gejolak hasrat anak muda sangat kentara dalam puisi-puisi yang ditulis Apop, sapaan akrab penulis.

“Keberanian Afif untuk menunjukkan jiwa mudanya, keridakterimaannya dan kejujuran perasaan yang dilampiaskan lewat umpatan dan bahasa sehari-hari,” terang Siwi.

Lebih Lanjut, Siwi mengaku seperti merasakan ada pengalaman spiritual penulis pada saat pandemi dari kumpulan puisi setebal 114 halaman itu.

“Saya merasakan ini juga menjadi perjalanan spiritual Apop, dengan peristiwa yang padat sekali, termasuk sindiran namun tidak vulgar, umpatan, kedekatannya dengan dosok bapak,” pungkasnya. (adm)