Pati  

Ratusan Keluarga Hidup di Tengah Alas Lamin

AKTIVITAS: Suasana Dukuh Jatiurip yang berada di kawasan hutan, Selasa (4/6/2024). (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Ratusan keluarga di Dukuh Jatiurip, Desa Sumbermulyo Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati hidup di tengah kawasan hutan. Wilayah yang menjadi tempat tinggal mereka masuk itu kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Regaloh atau yang kenal oleh masyarakat setempat dengan nama Alas Lamin.

Kepala Dukuh Jatiurip, Sudadi menyebut ada sebanyak 283 rumah warganya yang berada di kawasan hutan tersebut. Ratusan rumah itu dihuni oleh 347 Kartu Keluarga (KK) atau kurang lebih 800an jiwa.

Dukuh itu memiliki luas puluhan hektar yang ditempati ratusan petak lahan. Tak hanya jadi permukiman, lahan tersebut juga ditempati fasilitas umum. Mulai dari jalan, lapangan, tempat ibadah dan sekolah.

Baca juga:  TKP Tewasnya Bos Rental Ditandai Jadi Kampung Bandit, Camat Sukolilo: Opini Warganet

“Ada 538 petak lahan di lahan seluas 36 hektare. Itu terdiri dari jalan, permukiman, fasilitas umum seperti lapangan, 1 masjid, 6 musala, sekolah,” terangnya.

Ia menceritakan, kawasan hutan tersebut sudah dikuasai warga sebelum kemerdekaan atau sejak jaman kolonial. Kala itu, orang dari berbagai wilayah di Kabupaten Pati diperkerjakan oleh pemerintahan kolonial Belanda di kawasan hutan tersebut.

Namun mereka yang diperkerjakan tak diberikan kesejahteraan. Orang-orang itu pun hanya mengandalkan hidup dari pohon jati yang ada di hutan tersebut.

“Dulu pejabat pemerintah (masa kolonial) membutuhkan tenaga tebang pohon. Tapi di sini orang-orang itu diperkerjakan tapi tidak dikasih upah. Tapi ada jati yang memberi hidup,” tuturnya.

Baca juga:  Kominfo Minta Warganet Berhenti Tandai Sukolilo dengan Nama Negatif di Google Maps

Mereka pun bertahan dan membangun rumah tangga di kawasan hutan tersebut. Tempat yang awalnya hanya ditempati puluhan orang kini sudah menjadi pedukuhan.

“Itu sebelum tahun 1921. Terus menetap di sini. Dulu hanya 38 KK kemudian berkembang sampai sekarang. Tapi sampai sekarang belum mendapatkan legalitas,” pungkasnya. (lut/fat)