SD 2 Bacin Asah Otak Siswa Melalui Ekstra Sempoa

SEMANGAT: Pembina ekstrakurikuler, Puji Astuti saat mengenalkan penggunaan alat sempoa kepada siswa SD 2 Bacin, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sekolah Dasar (SD) 2 Bacin terus berupaya memberikan wadah berkembang para siswa. Termasuk salah satunya melalui ekstrakurikuler sempoa yang rutin digelar setiap Kamis dan Jumat yang diikuti 43 siswa kelas 1 dan 2 SD 2 Bacin.

Plt Kepala SD 2 Bacin, Sukati menyebutkan, sempoa merupakan alat menghitung yang menggunakan garis manik-manik untuk mewakili angka. Usia ideal belajar sempoa adalah pada saat anak memasuki usia sekolah di TK-A, TK-B, Sekolah Dasar (SD).

“Di usia 3-12 tahun perkembangan daya pikir anak berada pada tingkat pertumbuhan yang pesat. Maka kami manfaatkan hal itu dengan menyediakan ekstrakurikuler sempoa,” ujarnya saat ditemui Joglo Jateng.

Baca juga:  Tingkatkan Kemampuan, MTsN 9 Sleman Targetkan Satu Siswa Satu Prestasi

Sementara itu, pembina ekstrakurikuler, Puji Astuti memaparkan, dengan belajar sempoa akan meningkatkan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berfikir anak. Sehingga anak mudah dalam belajar apapun bukan hanya matematika oleh karena itu sempoa menjadi Basic for All Learning.

“Belajar ini juga bisa meningkatkan kemampuan koordinasi otak kanan dan otak kiri. Serta menciptakan koordinasi antara tangan serta otak menjadi lebih baik,” papar Tuti.

Dikatakannya, saat anak-anak berlatih dan menikmati manik-manik warna-warni, mereka cenderung menyimpan informasi untuk jangka waktu yang lebih lama. Alat ini membantu perkembangan otak mereka.

Baca juga:  Belajar Berniaga dengan Makanan Buatan Sendiri

“Angka yang kita pelajari ke siswa tidak langsung ribuan. Belajar dari awal secara bertahap,” katanya.

Menurutnya, sempoa bukanlah alat penyelesaian matematika secara tuntas. Tetapi sempoa hanyalah salah satu cara berhitung yang mengajarkan otak manusia mampu belajar aritmatika serta merangsang imajinasi.

“Apalagi sekarang sempoa tidak se booming dulu. Karena dianggap menjadi metode yang kurang modern. Tapi meskipun begitu ini tetap efektif untuk belajar anak-anak,” ungkapnya. (cr1/fat)