Tim PKM RSH UMY Kritisi Kidfluencer

BERSAMA: Tim PKM UMY yang meneliti terkait fenomena kidfluencer bersama dengan dosen pendampingnya. (HUMAS/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Fenomena kidfluencers di TikTok kini menjadi sorotan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM RSH) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah konten yang menampilkan balita dan anak-anak di FYP (for you page) TikTok.

Dosen pendamping tim PKM RSH UMY, Dr. Filosa Gita Sukmono mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi tim kidfluencers ini. Menurutnya, judul riset tim ini sangat menarik dan relevan karena sebagian orang tidak bisa lepas dari konten positif maupun negatif di media sosial.

Baca juga:  Dishub Yogyakarta Ajak Masyarakat Lakukan Uji KIR untuk Antisipasi Kecelakaan

“Penelitian tentang konten kreator anak ini penting karena melibatkan perspektif sosiokultural dalam komersialisasi anak,” ungkapnya, belum lama ini.

Pihaknya menambahkan, penelitian ini tidak hanya akan menghasilkan temuan akademis tetapi juga tindakan nyata. Pihaknya berencana mengkampanyekan hasil penelitian ini serta menyerahkan policy brief  kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai eksploitasi dan komersialisasi anak melalui kidfluencers,” tuturnya.

Senada, Ketua PKM RSH UMY, Nastiti Dyah Lestari mengungkapkan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji aspek sosiokultural kidfluencers yang membuat mereka komersial. Juga mendapat banyak endorse serta perhatian di TikTok

Baca juga:  Promosikan Wisata Heritage di Sleman melalui Prangko Buk Renteng

“Dominasi konten ini menunjukkan adanya masalah komersialisasi anak. Kami melihat mayoritas konten di FYP TikTok akhir-akhir ini adalah anak-anak yang mempromosikan produk. Kami bertanya-tanya mengapa belum banyak yang menyuarakan bahwa ini merupakan bentuk komersialisasi anak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pihaknya berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis. Melalui kampanye literasi media online, Tim PKM RSH UMY ingin menciptakan kesadaran agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengunggah aktivitas anak di media sosial.

Policy brief yang kami siapkan akan menjadi acuan dan rekomendasi kebijakan bagi KPAI untuk melindungi anak dari komersialisasi dan eksploitasi digital,” demikian kata Nastiti. (suf/adf)