DKPP Bantul Berharap Lahan Wedi Kengser Berproduksi Maksimal

GIAT: Terlihat petani Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul sedang melakukan penambahan padi di lahan Wedi Kengser, belum lama ini. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Meskipun pembukaan lahan Wedi Kengser di tepian Kali Progo, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul masih bersifat baru dan belum diketahui dengan pasti tingkat kesuburannya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul berharap bisa berproduksi maksimal. Untuk mencapai itu, DKPP akan meningkatkan volume pupuknya.

Seperti yang dikatakan kepala DKPP Bantul Joko Waluyo, varietas yang ditanam ini yaitu varietas inpari-32. Varietas jenis ini diklaim memiliki tingkat produktivitas mencapai 8,8 ton gabah kering. “Agar produktivitasnya maksimal makanya, pengelolaannya berbeda dengan lahan sawah umumnya,” ungkap Joko, Kamis (6/6/24).

Baca juga:  Dinperinkopukm Yogyakarta Gelar Lomba Tangkas Terampil Perkoperasian untuk Tingkatkan Minat Berkoperasi Remaja

Menurutnya, perlakuan pada lahan Wedi Kengser ini akan cenderung memiliki perbedaan pada lahan sawah yang sudah sering digarap. “Nanti pupuknya akan lebih banyak. Baik itu  pupuk organik maupun pupuk kimianya. Jadi kita belum tahu produksinya seperti apa, semoga saja bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ngentak, Mujiman yang mengelola lahan baru ini mengatakan, lahan ini dapat dikatakan sebagai lahan setengah subur karena baru pengolahan pertama. Sehingga perlu penambahan pupuk yang maksimal. “Ini akan ada tambahan pupuk organik dari dinas untuk menaikkan pH-nya,” ujarnya.

Baca juga:  Manfaatkan Eco Enzyme untuk Komposter

Dirinya juga mengaku belum punya pengalaman mengolah lahan baru seperti ini. “Biasanya saya hanya ngolah sawah. Untuk kendala, nanti dari pupuknya ditingkatkan karena kita belum pernah produksi. Bisanya pupuk herbisida harus tepat, mungkin satu minggu harus sudah di semprot,” terangnya.

Lebih lanjut, dia juga mengatakan, meskipun pembukaan lahan ini dilakukan oleh pihak kepolisian, namun hasilnya dinikmati sepenuhnya oleh petani. Sementara itu, untuk kebutuhan produksi berupa pupuk dan bibit sepenuhnya disediakan oleh DKPP.

“Semua hasilnya dikembalikan ke warga. Pupuk, bibit dan obat di bantu Dinas. Kami hanya sebagai penggarap,” tandasnya. (nik/abd)