Religi  

Keutamaan dan Amalan 10 Hari Awal Dzulhijjah

H. Adi Bayu Nugroho, S.Pd.I, M.Pd
H. Adi Bayu Nugroho, S.Pd.I, M.Pd (DOK. PRIBADI/JOGLO JOGJA)

DI antara kenikmatan seorang muslim selain berjumpa dengan bulan Ramadan adalah salah satu bulan haram, yaitu Dzulhijjah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Tidak ada hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah,” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?,” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apa pun.”.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.

Baca juga:  Dzulqa’dah, Salah Satu Bulan Haram yang Diagungkan

Bulan yang mulia tentu juga diiringi dengan amalan-amalan yang mulia pula, di antara amalan di bulan Dzulhijjah adalah; Yang pertama adalah melaksanakan ibadah haji dan umrah. amalan ini adalah amalan yang paling utama, maka setiap muslim hendaknya memiliki tekad dan usaha yang kuat untuk melaksanakannya sebagaimana yang sudah dibahas pada artikel Jumat lalu.

Yang kedua adalah Memperbanyak berpuasa di hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama di hari Arafah. Beberapa istri Nabi SAW mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…”.

Yang ketiga adalah berkurban pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyrik. Diriwayatkan bahwa Nabi SAW berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu.

Baca juga:  Setiap Kaum Muslimin Bisa Berhaji

Berkurban tidak harus mahal, yang terpenting adalah memenuhi syarat binatang bisa dijadikan hewan kurban sehingga syiar kurban ini penting untuk didakwahkan agar semakin banyak muslim yang mampu berkurban. Bagi yang berkurban, dilarang memotong kuku dan rambut mulai tanggal 1 Dzulhijjah.

Yang keempat adalah memperbanyak takbir dan zikir. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari tasyrik.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah salat sunah.

Baca juga:  Dzulqa’dah, Salah Satu Bulan Haram yang Diagungkan

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya mutlak, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Yang kelima adalah memperbanyak tobat dan amal saleh. Berdasarkan keumuman, makna hadis tentang keutamaan 10 awal bulan Dzulhijjah yang disebutkan pada paragraf pertama, maka termasuk amalan yang utama di 10 awal bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak tobat dan diiringi dengan bersemangat beramal saleh. Selain karena keumuman hadis tersebut, bulan Dzulhijjah juga merupakan salah satu dari bulan-bulan haram yang kezaliman di dalamnya lebih besar dosanya dibandingkan bulan-bulan yang lain, juga amalan di dalamnya lebih besar pahalanya dibanding bulan-bulan yang lainnya. (*)