Figur  

Dari Hobi Menjadi Bisnis: Kisah Sukses Nawa Vertikal, Pengusaha Muda Make Up Artis

Nawa Vertikal
Nawa Vertikal. (DOK. PRIBADI/JOGLO JOGJA)

SIAPA sangka, yang awal mulanya hanya menerima beberapa pesanan saja, sekarang bisa mendapatkan belasan hingga puluhan pesan setiap bulannya. Hal itulah yang dirasakan sosok pengusaha muda make up artis, Nawa Vertikal (22), yang merupakan mahasiswa semester akhir Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Nawa mengaku, awal mula ia merintis bisnis make up artis ini dimulai pada 2019 lalu, saat dirinya awal memasuki perguruan tinggi. Adapun bibit ketertarikannya dengan bisnis ini dimulai sejak kelas XII SMK.

“Aku mulai pegang orang itu tahun 2019. Tapi aku pas itu belum punya nama, masih diajak pelatih menariku untuk me-make up anak-anak, teman-teman yang nari atau nyanyi di sekolah,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Temukan Kepercayaan Diri lewat Sosmed

Bermula dari hal itulah, dia tertarik dengan dunia make up. Lambat-laun, upaya itu kemudian mendapatkan penilaian bagus dari banyak orang. Di titik itu, perempuan kelahiran Pacitan ini lalu memberanikan diri untuk memulai usaha.

“Tahun 2019 sampai 2021 itu belum seramai sekarang. Jadi job-nya itu sebulan masih kisaran 4 sampai 5 orang. Dibandingkan sekarang, bedanya jauh banget. Sebulan bisa dapat 15-20 job,” tuturnya.

Nawa pun bercerita, pelanggan make up yang sering ia layani biasanya untuk kegiatan nikahan, lamaran, ngunduh mantu, tari, wisuda, dan kegiatan lainnya. “Semua make up untuk event apa pun aku layani. Make up karakter juga aku layani,” ujarnya.

Baca juga:  Foto Tetangga Jadi Inspirasi Raih Prestasi

Selain itu, ia juga membeberkan bahwa skill make up artis ini didapat secara otodidak. Lalu, pada saat kuliah, Nawa mendapatkan mata kuliah tata rias yang kemudian ia jadikan sebagai wadah untuk meningkatkan skill make up-nya itu. “Sementara ini studio make up-ku di rumah. Promosinya aku mengandalkan media sosial Instagram dan tik tok nawaver_make up,” katanya.

Penghasilan dari usaha ini, ujar Nawa, sebagian digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sisanya ditabung untuk modal pengembangan usaha. Sementara itu, meskipun usaha itu bisa untuk membiayai kuliahnya, tapi karena ia anak tunggal, biaya pendidikan itu murni ditanggung orang tua.

Baca juga:  Elsa Buktikan Organisasi Tak Halangi Prestasi, Raih IPK 3.9 dan Jadi Ketua BEM Fakultas

“Kalau biaya kuliah, karena aku anak tunggal juga, jadi sepenuhnya dari orang tua. Orang tua juga bilang mau biayai siapa pula mereka kalau bukan aku. Jadi mereka sarankan, hasilnya untuk kebutuhan pribadiku dan untuk modal pengembangan,” pungkasnya. (nik/abd)