Pati  

Diduga Palsukan Celana Merek Cardinal, Wanita Asal Pati Diseret ke Pengadilan

BICARA: Kuasa Hukum pihak Cardinal saat diwawancarai wartawan usai persidangan di PN Pati, Kamis (6/6/24). (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Seorang wanita berinisial NS asal Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, diduga memalsukan celana merek Cardinal. Ns pun dibawa ke Pengadilan Negeri (PN) Pati atas dugaan pemalsuan merek brand ternama itu.

Persidangan dalam perkara ini digelar pada Kamis (6/6) siang lalu. Ada sebelas saksi yang dihadirkan dalam sidang tersebut. Dari mulai pihak PT Multi Garmenjaya yang memiliki merek Cardinal, keluarga terdakwa hingga penyidik Polresta Pati.

Staf Khusus PT Multi Garmenjaya, Sufiyanto mengungkapkan, pihaknya mengendus aktivitas produksi celana panjang yang dilabeli dengan merek Cardinal pada tahun 2023 lalu. Temuan itu disebut setelah NS menjual celana bermerek Cardinal lewat postingan di laman Facebook-nya.

“Awalnya karyawan kami menemukan informasi bahwa ada seorang yang menjual merek Cardinal. Setelah itu kami menyuruh karyawan untuk memesan beberapa dengan harga 40 ribuan per pcs,” ungkap dia dalam persidangan tersebut.

Baca juga:  Penegakan Perda di Pati Dinilai Sering Terhambat

Setelah itu, pihak Cardinal menduga bahwa celana yang dijual NS itu merupakan Cardinal KW alias palsu. Karena disebut ditemukan sejumlah perbedaan, baik dari segi bahan hingga kualitas produksi.

“Setelah kami beli ada perbedaan. Kita punya hologram di gantungan. Bahan beda dan kualitas berbeda. Kalau kami harga satu biji Rp 400 sekian. Kalau dia jual Rp 40 ribuan, ada Rp 50 ribuan dan Rp 60 ribuan,” ungkapnya.

Kemudian masalah ini pun dibawa ke ranah hukum. NS dilaporkan ke pihak kepolisian dan akhirnya ditetapkan menjadi tersangka. NS dijerat dengan pasal 100 ayat 1 dan 2 Undang-undang tentang Merek. Kasus tersebut saat ini masih bergulir di meja hijau.

Baca juga:  Henggar Ingatkan Anak Buahnya untuk Taat Hukum

Sementara itu, Kuasa Hukum pihak Cardinal, Deni Rohmana menjelaskan bahwa praktik produksi Cardinal KW ini memang marak. Pihaknya pun telah melaporkan temuan-temuan itu ke pihak kepolisian.

“Ada beberapa yang dilaporkan. Terakhir di Pekalongan sudah inkrah dengan vonis 2,5 tahun penjara dan denda Rp 50 juta. Sebelumnya banyak sekali. Ada di Tasikmalaya, Tangerang dan Jakarta,” jelas dia ditemui usai persidangan.

Ia menegaskan, langkah hukum diambil lantaran aktivitas tersebut dirasa merugikan PT Multi Garmenjaya maupun customer. Bahkan, ia menyebut kerugian yang ditimbulkan para pembuatan Cardinal KW ini mencapai miliaran rupiah.

“Cardinal dari tahun 1973, artinya butuh proses panjang hingga mempunyai nama. Dengan biaya dan waktu itu tidak gampang. Mereka tidak melihat tersebut. Diambil saja. Kami mengalami kerugian. Konsumen juga,” tegas dia.

Baca juga:  Sepi Pengunjung, Alun-alun Kembangjoyo Dinilai Perlu Dibangun Taman

Terpisah, Kuasa Hukum Terdakwa, Nimerodin Gulo membantah jika kliennya memproduksi Cardinal KW. Ia menyebut usaha konveksi di Desa Mojolawaran, Kecamatan Gabus itu bukan milik NN melainkan milik mertuanya.

“Kasus itu bermula NN menjual pakaian merek Cardinal lewat Facebook. Ternyata pemiliknya itu ibu mertuanya. Yang dijadikan tumbal itu NN yang dipakai pasal 100 ayat 1 dan pasal 100 ayat 2 Undang-undang 20 Tahun 2016 tentang merek. Padahal pasal itu menyebutkan pemiliknya yang bisa dijerat. Sedangkan NN bukan karyawan, tadi di persidangan ia juga menyatakan itu bukan miliknya,” jawab dia. (lut/fat)