Peduli Lingkungan, SMP 3 Satu Atap Gebog Tanam 200 Rumput Vetiver

PEDULI: Tampak siswa SMP 3 Satu Atap Gebog menanam rumput vetiver di lereng kawasan longsor Rahtawu, Senin (10/6/24). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 Satu Atap Gebog terus berupaya mengajak siswa-siswinya memiliki kepedulian pada penyelamatan lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui penanaman rumput vetiver sebagai upaya mitigasi bencana longsor di daerah Rahtawu, Gebog, Kudus.

Kepala SMP 3 Satu Atap Gebog, Tenti Anita Aries menyampaikan, sekitar kawasan sekolahnya termasuk salah satu wilayah yang rawan bencana longsor. Lebih lagi, para siswa juga memiliki rumah dengan kontur lereng.

“Kami selalu mencoba menanamkan literasi alam. Tidak hanya di sekolah tetapi bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya kepada Joglo Jateng di sela penanaman, Senin (10/6/24).

Baca juga:  SD 2 Bacin Asah Otak Siswa Melalui Ekstra Sempoa

Tenti menjelaskan, sebanyak 200 rumput vetiver ditanam oleh 173 siswa bersama guru. Fokus lokasinya yaitu di sepanjang jalan Rahtawu Raya, Hutan Culo dan kawasan Jambu sebagai lokasi rawan longsor.

“Penanaman akar wangi atau rumput vetiver ini efektif memitigasi lingkungan. Agar anak-anak juga paham cara menjaga bumi dari even ini,” jelasnya.

Nantinya, sebanyak 60 dari 200 rumput vetiver akan dibagikan kepada orang tua atau wali murid. Sekaligus sosisalisasi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Muria di momen purnawiyata.

Baca juga:  SMP Joko Tingkir Siap Jadi Sekolah Unggulan

“Jadi momen kelulusan tidak hanya sekadar lulus tetapi ada kenang-kenangan dari sekolah. Yaitu dengan pemberian dan sekaligus sosialisasi pentingnya mitigasi berupa penanaman akar wangi,” imbuhnya.

Ia mengakui respons orang tua terhadap kegiatan ini sangat baik. Mereka mendukung dan bangga jika anak-anak memiliki kesadaran menjaga lingkungan.

“Harapan saya gerakan literasi alam para siswa di lingkungan masyarakat menunjukkan bahwa yang dibutuhkan tidak hanya terampil akademik. Tetapi juga sosial emosional. Termasuk kemampuan berliterasi alam di wilayah masing masing,” harapnya.

Sementara itu, siswi kelas 9, Dzikriana Nur Afifah mengaku senang mendapat pengalaman dan ilmu mitigasi bencana. Sebab, meski sudah sering ikut melakukan kegiatan seperti itu, namun penanaman akar wangi kemarin menjadi yang pertama kali baginya.

Baca juga:  SD Negeri Tamanan Gelar Karya & Market Day Jadi Ajang Pameran Kreativitas

“Ini sesuai dengan tempat tinggal saya. Lokasinya dekat dengan lereng yang perlu sekali edukasi penanaman akar wangi,” ungkapnya. (cr1/fat)