Jogja Kembali Bersaing Raih Nirwasita Tantra, Paparkan Upaya Atasi Persampahan, Air, dan RTHP

JELASKAN: Pj Wali Kota Yogyakarta Sugeng Purwanto saat memaparkan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka Penilaian Nirwasita Tantra di Balai Kota, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melakukan pemaparan kepada Tim Panelis dalam rangka Penilaian Nirwasita Tantra secara virtual di Ruang Yudistira, Selasa (11/6). Adapun isu yang diangkat terkait prioritas lingkungan hidup di Kota Yogyakarta seperti tentang persampahan, kualitas air, dan ruang terbuka hijau publik (RTHP).

Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Sugeng Purwanto mengatakan, terkait persampahan, Pemkot saat ini masih berupaya seoptimal mungkin untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Di mana terus dilakukan pengoptimalan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R).

“Kota Yogyakarta memiliki tiga TPS 3R yakni Nitikan, Karangmiri, dan Kranon. Konsep pengelolaan sampah yang dilakukan bukan menumpuk sampah, tapi mengolah sampah. Salah satu hasil pengolahan sampah ini adalah Refused Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Luncurkan Buku Monitoring Afeksi Program Penguatan Pendidikan Karakter

Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga menginisiasi gerakan mengolah limbah dan sampah dengan biopori ala Jogja (Mbah Dirjo) yang digalakkan bersama Forum Bank Sampah. Gerakan ini mampu mengelola sampah organik secara signifikan.

“Pengolahan sampah mandiri ini tidak hanya dilakukan di rumah tangga tetapi juga dapat melalui bank sampah yang ada di tiap wilayah. Saat ini, di Kota Yogyakarta memiliki 678 unit bank sampah yang dapat dimanfaatkan masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Yogyakarta Sugeng menambahkan, dalam pengendalian pencemaran air seperti pengolahan limbah cair domestik, dilakukan secara terpusat melalui jaringan saluran air limbah perkotaan. “Kami juga rutin melakukan pembersihan aliran sungai yang dilakukan oleh satgas kebersihan sungai. Pemkot Yogyakarta juga telah memiliki fasilitas pengujian berupa laboratorium yang terakreditasi,” imbuhnya.

Baca juga:  Kuatkan Program Merdeka Belajar & Perlindungan Hak Anak

Tak sampai di situ, dalam pembangunan infrastruktur, Pemkot Yogyakarta juga memiliki program penataan kawasan pinggir sungai, dengan metode 3M (Mundur, Munggah, Madep Kali). Dengan tujuan agar masyarakat memperlakukan bantaran sungai seperti halaman depan rumah mereka.

“Penataan bantaran sungai ini juga diikuti dengan pembangunan sarana dan prasarana umum dan sanitasi sehat untuk masyarakat seperti membuat taman, toilet umum, dan instalasi pengolahan air limbah (ipal) komunal,” ungkapnya.

Sedangkan terkait RTHP, Pemkot Yogyakarta tiap tahun terus menambah jumlah RTHP di Kota Yogyakarta dan juga terus meningkatkan kualitas RTHP dengan pemeliharaan dan penambahan fasilitas publik.

Baca juga:  PPDB Yogyakarta Terisi 95 Persen, Siswa Masih Bisa Mendaftar

“Selain menggunakan tanah milik Pemkot untuk membangun RTHP, kami juga melakukan pembelian tanah milik warga. Penanaman pohon di jalur hijau dan kawasan perindang juga terus dilakukan,” pungkasnya. (riz/abd)