Disnakkeswan Jateng Minta Ternak Sakit Dikarantina Jelang Iduladha

TELITI: Dokter hewan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Peternakan memeriksa mata sapi saat pengecekan kesehatan hewan ternak di Mojosongo, Solo, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Menjelang Iduladha, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jawa Tengah mulai melakukan inspeksi dadakan (sidak) di sejumlah titik lapak peternak dan pasar hewan di Jateng. Kegiatan ini dilakukan untuk mengecek kesehatan dan biossecurity ternak yang akan digunakan kurban itu dilakukan secara acak. Khususnya di wilayah Semarang, Kendal, dan sekitarnya.

“Pengamatan ngecek lapak-lapak atau pasar hewan itu mulai intensif mulai tanggal 10 Juni sampai sebelum hari H,” ujar Kepala Disnakkeswan Jateng, Agus Wariyanto melalui sambungan telepon, Kamis (13/6/24).

Sementara untuk sidak pengecekan ternak kurban secara menyeluruh dilakukan oleh Dinas Kesehatan Hewan di masing-masing kabupaten kota di Jateng. Menurutnya, hal ini telah menjadi tugasnya untuk memastikan hewan ternak di pasaran sehat dan memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai hewan kurban.

Baca juga:  Harganas Targetkan 10 Ribu Peserta se-Indonesia

“Itu penting peran kabupaten, karena kita menurunkan dokter hewan, paramedis, kaitan dengan kesehatan hewan. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Tinggal memilih yang cocok di mana, tetapi harus hati-hati. Karena di sana yang menjadi krusial itu adalah penyakit,” imbaunya.

Agus menjelaskan pengecekan dilakukan mulai dari penampilan fisik luar tubuh hewan ternak. Bila ternak mengalami sakit ringan sepert lecet sehabis perjalanan, mata merah, dan sebagainya maka akan diobati.

“Kalau Antemortem atau sebelum itu kita mendapatkan gejala klinis dari luar, misalnya ternak ini kok bergeraknya mencurigakan, tidak lincah, kalau jalan agak pincang, berarti ada sesuatu yang mengganggu. Ini harus diwaspadai. Termasuk PMK ada lepuh-lepuh itu harus segera dikarantina, disingkirkan sama kelompoknya supaya tidak menular,” tegasnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Siap Support Bahan Murah hingga Pemasaran untuk UMKM

Tak cukup pengecekan menjelang penyembelihan, pihaknya juga akan melakukan sidak usai pemotongan hewan kurban. Pasalnya penyakit cacting hati pada ternak sangat berbahaya dan perlu diwaspadai masyarakat.

“Saat pemotongan hari H, kita juga turunkan tim ada di beberapa kota yang terpilih termasuk Kota Semarang. Itu untuk memastikan bahwa ternak setelah dipotong itu kita cek kesehatannya,” lanjutnya.

Kendati demikian, dia menjelaskan menurut fatwa MUI, hewan dengan PMK ringan masih boleh digunakan kurban bila gejala klinis tidak serius. Sementara bagi ternak dengan cacing hati yang terlanjur disembelih, maka hatinya tidak boleh dikonsumsi.

Baca juga:  RSUD dr. Adhyatma, MPH Terapkan Inovasi IMPORTANT, Beri Keterbukaan Informasi Tempat Tidur Kosong secara Real Time

“Fatwa MUI, PMK itu boleh dengan catatan, ternak itu tidak cacat. Atau dia kalau dia itu ndeprok, sudah enggak bisa berdiri. Nah ini dari aspek syariah tidak boleh,” tandasnya. (luk/gih)