Religi  

Iduladha, Sejarah Pengorbanan Cinta Sejati

H. Adi Bayu Nugroho, S.Pd.I, M.Pd (HUMAS/JOGLO JOGJA)

CINTA merupakan anugerah yang penuh problematika dan dinamika di tengah umat manusia. Masing-masing tentu memiliki kisah cintanya, mulai yang bernilai dosa hingga bernilai surga. Persepsi demi persepsi tentang cinta sangat beragam mulai dari cinta monyet di usia senja, drama-drama tak bermakna, hingga roman picisan yang tersebar dan terkenal sepanjang sejarah.

Saking banyaknya kisah-kisah cinta yang penuh kebatilan di sekitar kita, sampai-sampai kita tak menyadari adanya kisah cinta tertinggi yang tertulis dalam Al-Quran, kisah cinta seorang khalilullah (kekasih Allah) bernama Ibrahim AS terhadap Rabbnya. Di tengah kesendiriannya di dunia yang dipenuhi berhala, beliau berjalan menjauh mencari tanda-tanda Ilahiyah, mulai dari mengamati bulan, matahari, bintang yang senantiasa terbit dan tenggelam. Hingga Allah memberinya petunjuk bahwa Tuhan yang harus ia sembah adalah yang menerbitkan dan menenggelamkan bulan, bintang, dan matahari.

Perjalanan cintanya berlanjut dengan memerangi kesyirikan di tengah kaumnya yang berada di bawah kekuasaan Namrud. Tidak main-main, dengan keberaniannya, Nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala yang disembah oleh kaumnya. Karena aksi itulah Nabi Ibrahim diberi hukuman mati yaitu dengan dibakar hidup-hidup.

Baca juga:  Refleksi Sa’i, Filosofi Kekuatan Mental Seorang Muslim

Namun Allah dengan penuh cinta menyelamatkannya seraya berfirman: “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 69). Raja Namrud pun terkejut karena Nabi Ibrahim berjalan keluar dari puing dan abu bekas pembakaran dengan selamat tanpa luka bakar sedikit pun.

Perjalanan cintanya tidak selesai sampai di sini, setelah hijrah dan bertahun-tahun tidak kunjung memiliki keturunan yang beliau harapkan bisa meneruskan perjuangan cinta, perjuangan dakwah yang sudah beliau jalani dengan penuh ujian, kemudian beliau berdoa, “Rabbi habli minaṣshaalihiin” yang artinya “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”(As-Shafaat 100) .

Allah pun mengabulkan doa dengan lahirnya Ismail “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail)”(As Shafaat 101). Namun lagi-lagi ini belum pada akhir dari kisah yang mungkin banyak orang harapkan, atau biasa disebut dengan happy ending. Ujian cinta seorang khalilullah belum berakhir.

Baca juga:  Membumikan Hikmah Iduladha di Sepanjang Kehidupan

Allah melanjutkan dalam firman-Nya, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (As Shafaat 102-107).

Baca juga:  Bulan Muharram dan Amalan di Dalamnya

Anak saleh yang telah lama diidam-idamkan dan sangat beliau cintai kemudian Allah uji cinta Ibrahim kepada Allah dengan memerintahkan menyembelih putra tercintanya. Namun demikianlah seorang khalilullah, sang pecinta sejati yang menomor satukan cintanya kepada Allah dan kualitas cintanya kepada Allah pun juga menular pada Ismail.

Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, Ismail rela dirinya disembelih oleh ayahnya. Sebuah momen cinta yang dramatis dan mengalahkan semua kisah cinta karangan manusia yang ada di dunia ini. Dan Allah pun mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar.

Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati adalah cinta kepada Allah dan cinta karena Allah, segala sesuatu yang tertuju kepada Allah pastilah berakhir dengan kebahagiaan meski dipenuhi dengan lika-liku ujian. Mungkin saja kebahagiaan itu tidak kita temukan di dunia, karena kebahagiaan sejati bagi orang yang beriman adalah Surga. (*)