Cacing Hati Ditemukan pada Puluhan Hewan Kurban di Bantul, Daging Aman Dikonsumsi

GUYUBB: Pemotongan hewan kurban di salah satu perumahan wilayah Kelurahan Tamanan, Kabupaten Bantul, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih menemukan puluhan hewan kurban yang dipotong dalam perayaan Iduladha 1445 Hijriah pada bagian hati hewan tersebut terkena cacing hati atau Fasciola hepatica. Dikatakan bahwa berdasarkan hasil pemantauan terhadap pemotongan hewan kurban pada Senin (17/6) siang, ditemukan Fasciola hepatica pada 85 sapi.

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, 85 cacing hati tersebut ditemukan dari 3.058 sapi. Kemudian cacing hati juga ditemukan pada tujuh kambing dari yang dipotong sebanyak 3.169 ekor, dan domba dari sebanyak 4.450 ekor, ditemukan cacing hati pada sebanyak 13 ekor.

Baca juga:  Padat Karya Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat Bantul

Meski demikian, kata dia, hewan kurban yang terkena Fasciola hepatica tersebut dagingnya masih aman dikonsumsi. Hanya saja, bagian hati hewan yang mengandung cacing hati dibuang atau dimusnahkan agar tidak dikonsumsi.

“Kalau Fasciola hepatica itu aman, daging tetap bisa dikonsumsi. Tetapi hatinya yang kena cacing seperti rumah tawon itu dihilangkan, dipotong, yang tidak ada cacing bisa diolah dimasak dengan matang, tidak masalah,” katanya, belum lama ini.

Oleh karena itu, masyarakat maupun sohibul kurban tidak perlu mengkhawatirkan temuan cacing hati pada hewan kurban. Sebab, Fasciola hepatica bukan merupakan penyakit zoonosis atau yang menular ke manusia yang mengonsumsi, sehingga daging aman dikonsumsi.

Baca juga:  Warga Keluhkan Bukit Sampah Mandala Krida

Menurut dia, masih ditemukan cacing hati pada hewan kurban tersebut disebabkan karena faktor pakan ternak atau rumput yang diberikan oleh peternak mengandung keong yang menempel pada rumput, meski rumput telah dipotong dari sawah.

Fasciola hepatica itu sebagai mediatornya keong, jadi kalau di Bantul masih banyak hewan kena Fasciola hepatica itu karena kalau panen itu biasanya petani motong rumput dari bawah, sementara keong itu menempel di rumput di permukaan air, jadi keong masih menempel di rumput,” terangnya.

Dia mengatakan, kemudian rumput yang dipotong tersebut langsung diberikan kepada hewan sebagai pakan, padahal keong masih menempel karena oleh petani belum dijemur maupun diangin-anginkan untuk menghilangkan kelembaban rumput. “Rumput yang dipotong dari sawah yang masih hijau-hijau langsung diberi untuk pakan sapi, jadi rumput dimakan, keong ikut masuk, nah, keong itu sebagai pembawa cacing itu,” jelasnya. (ara/abd)