KADIN DIY Soroti Ancaman Resesi Ekonomi 2025

Komptap KADIN DIY, Timotius Apriyanto
Komptap KADIN DIY, Timotius Apriyanto. (MUHAMMAD ABU YUSUF AL BAKRY/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Komite Tetap Pembinaan dan Pengembangan Kesekretariatan (Komtap) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, menyoroti ancaman resesi ekonomi di tahun 2025. Hal itu dikarenakan kondisi ekonomi global dan nasional serta kecenderungan politik dan ekonomi saat ini.

Komptap KADIN DIY Timotius Apriyanto mengartikan, resesi ekonomi merupakan kondisi perekonomian suatu negara yang semakin memburuk. Ditandai Produk Domestik Bruto (PDB) negatif, peningkatan pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi riil negatif selama dua kuartal berturut-turut.

“Pada pertengahan Juni 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) hampir menyentuh Rp16.500/US$. Meski sempat menguat di pertengahan hingga akhir Mei 2024, berkat kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dan pengumuman cadangan devisa negara,” ungkapnya, belum lama ini.

Dikatakan bahwa penguatan tersebut tidak cukup untuk menahan pelemahan rupiah. Prediksi sebelumnya mengisyaratkan, rupiah bisa mencapai Rp16.500/US$ di pertengahan Mei 2024, namun kenyataannya baru terjadi di pertengahan Juni 2024.

Baca juga:  Pemkab Bantul Wacanakan Tambah Satu TPST Lagi

“Beberapa faktor yang berkontribusi pada pelemahan rupiah, antara lain ketidakpastian arah kebijakan fiskal pemerintah, lemahnya pasar valuta asing, tingginya suku bunga US$, prospek US$ yang kuat, serta beban fiskal pemerintah yang semakin berat,” jelasnya.

Pihaknya juga menyoroti faktor lain terkait melemahnya rupiah yang dikarenakan ambisi proyek Ibu Kota Negara (IKN) dan program pemerintah, seperti program makan siang gratis, juga menambah tekanan pada beban fiskal. “Bank investasi dan jasa keuangan global Morgan Stanley telah menurunkan peringkat ekuitas bursa saham Indonesia menjadi underweight dalam alokasi perusahaan di pasar Asia dan negara berkembang,” tuturnya.

Baca juga:  Bawaslu BantuI Imbau Billboard Pemkab tak Digunakan Kampanye Pilkada

Peringkat ini mengindikasikan saham Indonesia diduga akan lebih volatil dan berisiko mengalami penurunan harga dibandingkan saham lainnya dalam satu sektor yang sama. Penurunan peringkat ini berdampak negatif pada kepercayaan pasar dalam waktu singkat.

“Nilai rupiah bisa terus melemah hingga mencapai Rp17.500/US$ atau lebih buruk hingga akhir 2024. Saat ini, rupiah termasuk dalam sepuluh mata uang dengan nilai terendah di dunia, yang terancam defisit pasokan US$. Pemerintah harus segera mengambil langkah untuk mencegah defisit ini agar rupiah tidak semakin terpuruk,” imbuhnya.

Lebih lanjut, total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 diperkirakan mencapai Rp3.500 triliun dengan defisit sebesar Rp600 triliun atau sekitar 2,45% hingga 2,82% dari produk domestik bruto (PDB).

“Pada tahun 2024, defisit anggaran dipatok sebesar 2,29% dari PDB, sementara pada tahun 2023 defisitnya adalah 1,82% dari PDB. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2024 tercatat sebesar 139 miliar US$ atau setara dengan Rp2.085 triliun,” bebernya.

Baca juga:  Beri Kontribusi Nyata SDGs dengan Eco Enzyme

Sementara, hutang pemerintah RI yang jatuh tempo pada tahun 2024 mencapai Rp434,29 triliun, terdiri dari kewajiban dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp371,8 triliun dan pinjaman lainnya Rp62,49 triliun.

“Total hutang RI hingga tahun 2024 mencapai Rp8.338 triliun, dengan beban APBN untuk membayar bunga utang sebesar Rp434,29 triliun. 2025, utang jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp800,33 triliun, hampir dua kali lipat dari tahun 2024. Ancaman resesi tahun 2025 harus dilihat sebagai bentuk early warning bagi pemerintah dan pelaku ekonomi di Indonesia,” pungkasnya. (suf/abd)