Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Tsalis Suwaibah

Oleh: Tsalis Suwaibah
Guru BK MTs Negeri 1 Purbalingga

BULLYING adalah masalah serius yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang secara mendalam. Baik secara fisik maupun psikologis. Perilaku agresif yang dilakukan secara berulang ini bertujuan untuk menyakiti atau megintimidasi individu yang dianggap lebih lemah.

Bullying dapat terjadi di berbagai lingkungan. Termasuk di sekolah, tempat kerja, dan ruang online. Ken Rigby (2024), seorang profesor di bidang psikologi pendidikan menyatakan bahwa bullying adalah tindakan negatif yang dilakukan secara fisik maupun psikologis oleh seorang individu atau sekelompok orang. Hal tersebut dengan tujuan menyakiti atau mengganggu orang lain yang tidak memiiki kekuatan untuk melawan atau membela diri. Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Termasuk fisik, verbal, dan sosial.

Banyak fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan baik formal maupun nonformal. Pem-bully-an terjadi yang berdampak pada perkembangan fisik aupun psikis. Mulai dari yang terluka, sakit hati, tertekan, bahkan sampai merenggut nyawa. Hal ini menjadi perhatian berbagai pihak terutama bagi orang tua dan para pendidik. Banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anaknya ketika sedang belajar. Baik yang belajar di sekolah maupun yang di pondok pesanttren.

Sebagaimana menurut psikolog Iswan Saputro, M.Psi, (2024), dampak bullying bagi korban itu sangat beragam. Berikut di antaranya rentan merasakan emosi, sulit berkonsenterasi, tidak percaya diri, masalah fisik, menarik diri dari lingkungan, sulit membentuk hubungan, dan memicu terjadinya gangguan mental.

Fenomena tersebut menggerakkan seorang guru atau pendidik untuk mencegah dan menghentikan bullying. Salah satunya dengan menciptakan lingkungan yang aman. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah dengan menginformasikan kepada civitas akademik sekolah/menyosialisasikan bahwa bullying adalah perbuatan yang buruk. Salah satunya dengan pemasangan poster terkait bullying di setiap lokasi untuk memberikan pemahaman terhadap siswa.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah bullying antara lain, 1) bantu anak untuk memahami bullying merupakan perilaku buruk. 2) Beri tahu korban cara untuk mendapatkan bantuan, 3) jaga komunikasi dengan anak agar tetap terbuka.

4) Dukung anak untuk melakukan apa yang disukai, 5) berikan contoh bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik. Kemudian, 6) ajarkan anak untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara atau mengunggah sesuatu ke media sosial, serta 7) ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak.

Cara-cara tersebut dapat dilaksanakan dengan teknik dalam bimbingan konseling. Yaitu layanan konseling kelompok, di mana anggotanya terdiri dari dua sampai delapan siswa. Selanjutnya, untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anggota kelompok tahapannya adalah sebagai berikut. 1) Pembentukan, 2) tahap peralihan, 3) tahap inti, dan 4) tahap pengakhiran. Harapannya dengan teknik konseling kelompok tersebut masalah konseli akan terselesaikan.

Peran guru bimbingan konseling (BK) sangat berarti untuk meningkatkan kembali kepercayaan diri dari para korban bullying. Anak-anak yang menjadi korban tidak boleh terus-menerus tertekan baik jasmani maupun rohaninya agar tidak mengganggu aktivitas belajar. Mereka harus didampingi secara masif.

Bersama teman sejawat lain ataupun warga sekolah bahu-membahu menciptakan sekolah aman dan nyaman. Perundungan terhadap siapapun dan oleh siapapun harus dihentikan dan ditiadakan. Dengan sekolah yang ramah anak serta aman dan nyaman, maka tujuan pencapaian pendidikan nasional akan dapat dinikmati bersama. (*)