KPU Kota Yogyakarta Butuh 1.234 Pantarlih untuk Lakukan Coklit

Ketua KPU Kota Yogyakarta, Noor Harysa Aryo Samudro
Ketua KPU Kota Yogyakarta, Noor Harysa Aryo Samudro. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta baru saja melakukan penutupan seleksi Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih). Dalam hal ini, KPU Kota Yogyakarta memerlukan 1.234 petugas pantarlih untuk melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4).

Kepala KPU Kota Yogyakarta Noor Harysa Aryo Samudro mengatakan, pembukaan pantarlih dilaksanakan 13 dan berakhir 19 Juni. Sampai batas akhir pendaftaran, total ada 1.298 orang yang mendaftar. Dengan rincian pendaftar laki-laki berjumlah 465 dan perempuan 833.

“Pengumuman hasil seleksi pantarlih akan dilakukan pada 23 Juni, kemudian dilanjutkan pelantikan pada 24 Juni mendatang serentak di seluruh Indonesia. Kami membutuhkan 1.234 pantarlih yang akan ditugaskan di 645 TPS se-Kota Yogyakarta,” ungkapnya, Kamis (20/6/24).

Baca juga:  Minggu Pertama Coklit Fokus pada Tokoh

Harsya menambahkan, pihaknya juga telah melakukan bimbingan teknis (bimtek) kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se-Kota Yogyakarta untuk mendapatkan pelatihan menggunakan aplikasi sidalih dan ecolkit. Supaya PPK dapat melaksanakan monitoring supervisi ke pantarlih.

“21 Juni kami juga melaksanakan bimtek bagi PPS se-Kota Yogyakarta untuk meningkatkan kapasitas mereka melakukan pemutakhiran data pemilih dengan menggunakan sidalih dan ecoklit. Dan melakukan manual secara door to door di setiap Kartu Keluarga (KK) di Kota Yogyakarta,” paparnya.

Ia menambahkan, dalam pelaksanaan tugas, pantarlih akan melaksanakan coklit DP4. Dengan, rata-rata petugas pantarlih akan mencoklit sebanyak 351-400 orang.

Baca juga:  Pelatihan Digital Branding Tingkatkan Daya Tarik Wisata

“Mereka akan melakukan pencocokan dan penelitian DP4 dengan fakta door to door di setiap rumah warga Kota Yogyakarta. Di mana itu menjadi tantangan, karena saat melakukan pendataan, masyarakat yang bersangkutan sulit ditemui karena sibuk. Sedangkan untuk perumahan elit biasanya didatangi sulit.,” tutupnya. (riz/abd)