Luas Areal Tanam Padi di Bantul Diperkirakan Menyusut

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Memasuki musim kemarau, diperkirakan luas areal tanam pangan padi di Kabupaten Bantul menyusut. Pasalnya, sangat dimungkin beberapa daerah tertentu mengalami kesulitan sumber daya air sebagai penopang produksi padi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo mengatakan, meskipun musim kemarau, kegiatan pertanian di Bantul tetap berjalan seperti semula. Dirinya pun menyebut, kalaupun luas tanam padi menyusut, sebaliknya hal itu dikarenakan petani melakukan penyesuaian dengan kondisi iklim, sehingga memilih tanaman lain yang tidak memerlukan air terlalu banyak.

Baca juga:  Warga Diminta Selektif Pilih Angkutan Wisata

“Ada perpindahan jenis tanaman yang ditanam, bukan penyusutan. Perpindahan ini dari tanam padi ke palawija atau hortikultura,” ungkapnya, Kamis (20/6/24).

Untuk menerangkan kondisi ini, Joko menambahkan, setidaknya ada tiga mekanisme pola tanam yang diterapkan oleh petani Bantul. Pola ini sudah diterapkan sejak lama menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.

“Di Bantul itu ada tiga pola tanam. Ada pola tanam padi-padi-padi, ada pola padi-padi-palawija, dan pola tanam padi-hortikultura-hortikultura. Artinya, kalaupun padi berkurang, peningkatannya di tanaman lain,” terangnya.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa untuk ketersediaan pupuk, Bantul dalam kondisi aman. Bahkan, penebusan pupuk ini juga tidak lagi harus menggunakan kartu tani melainkan cukup dengan KTP.

Baca juga:  Pemkot Yogyakarta Anggarkan Rp9 M untuk Pemeliharaan Jalan Gedongkuning

Insya Allah pupuk aman. Kita ada tambahan pupuk 9.000 lebih ton, jadi kita dapat pupuk itu total 18.000 sekian ton. Dan penebusannya tidak harus pakai kartu tani, KTP pun bisa,” jelasnya.

Adapun jumlah pupuk tersebut diperuntukkan untuk periode tanam satu tahun. Lebih rinci perihal pembagian pupuk per musim tanam, pihaknya tidak bisa memberikan jawaban pasti.

“Itu untuk kebutuhan musim tanam dalam waktu satu tahun. Kan itu tergantung pola tanam lain-lain, jadi kami tidak bisa tentukan musim tanam satu berapa, musim tanam dua berapa,” pungkasnya. (nik/abd)