Dinakkeswan Jateng Klaim Sukses Kurangi Sampah Plastik

CEK: Proses pemeriksaan hewan kurban oleh Dinakkeswan Jateng, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jawa Tengah mengeklaim selama perayaan Iduladha 1445 Hijriyah pihaknya telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi penggunaan kantong plastik. Khususnya untuk distribusi daging kurban.

Sebagaimana diketahui, Disnakkeswan Jateng telah melarang penggunaan kantong plastik berwarna-warni dalam pendistribusian daging kurban. Masyarakat disarankan menggunakan plastik bening atau besek.

“Alhamdulillah terkait dengan packing daging dengan plastik kresek kalau sebelumnya plastik warna-warni, kemarin pantauan ini presentase kesadaran panitia untuk menyediakan plastik bening sudah naik. Alhamdulillah sekitar 87 persen,” kata Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jawa Tengah, Slamet Kasiran pada Joglo Jateng, akhir pekan lalu.

Slamet menyampaikan bahwa larangan menggunakan plastik berwarna pada distribusi daging kurban bukan tanpa alasan. Selain karena bau, plastik warna-warni tersebut hasil daur ulang yang berbahaya jika digunakan sebagai tempat daging.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Posko 11 UIN Walisongo Ikut Turut Ikut Serta Dalam Kegiatan Posyandu Di Desa Kandri

“Karena kalau plastik kresek bewarna disamping bau, memang ini juga menjadikan bahaya untuk daging,” ujarnya.

Pihaknya menyebut masih ada 10 persen panitia kurban di Jateng yang menggunakan plastik berwarna dalam distribusi daging kurban. Di sisi lain ada sebanyak 3,5 persen yang menggunakam besek.

“Jadi yang berwarna masih 10 persen. Kita masih menyadarkan panitia-panitia kurban agar mengguankan plastik bening supaya dagingnya ini betul-betul tidak terkontaminasi, karena kalau plastik bewarna itukan daur ulang, dan bau ya,” tegasnya.

Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan bahwa ada sebanyak 1,2 persen dari 46 ribu hewan kurban di Jateng ditemukan terinfeksi cacing hati. Adapun 1,2 persen tersebut diperkirakan menjangkit 200 hingga 250 hewan kurban.

Baca juga:  Disdikbud Jateng Evaluasi Insiden Piagam Palsu

“Jadi yang dilaporkan oleh teman-teman, dari 46 ribu itu kita temukan 1,2 persen terkena cacing hati. Itu sekitar 200-250 ekor hewan kurban ya,” ujar Slamet.

Menurutnya, hingga hari ketiga tasyrik Iduladha, sekitar 46 ribu hewan kurban masuk ke Jawa Tengah. Dari 46 ribu hewan kurban tersebut, hampir 50 persen didominasi kambing. Sementara untuk sapi yang masuk sebanyak 10.500 ekor, domba sebanyak 6.000, dan kerbau 500 ekor.

“Kalau untuk keseluruhan jumlah, nanti kita masih menunggu lebih kurang 1 hingga 2 minggu lagi,” jelas Slamet.

Tak hanya cacing hati, hewan kurban yang terinfeksi di bagian paru-paru pun juga ditemukan. Slamet menuturkan, beberapa hewan kurban ditemukan paru-paru basah maupun TBC yang menyebabkan paru-parunya berwarna hitam.

Baca juga:  Hari Pajak 2024, DJP Jateng Kembali Gelar Spectaxcular

“Infeksi paru-paru ini angkanya di 40 ekor. Paru-paru basah, maupun TBC yang hitam itu, angkanya 0,04 persen. Jadi kurang dari 1 persen dari jumlah keseluruhan,” jelas Slamet.

Infeksi paru-paru hewan kurban itu, kata Slamet, terjadi akibat adanya penanahan. Oleh sebabnya, ada peradangan dan warna menghitam di hewan kurban tersebut. “Ini biasanya diketahui dengan menyelupkan paru-paru itu ke air, biasanya akan tenggelam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Slamet mengimbau agar daging hewan kurban yang terinfeksi cacing hati dan penyakit paru-paru tidak dikonsumsi. Selain menjaga nilai halal daging tersebut, kesehatan penerima daging kurban juga mesti diperhatikan.

“Amannya itu yang dimakan tidak berpenyakit. Sehat ya, istilahnya memberikan nilai nutrisi yang baik,” ucapnya. (luk/gih)