Rutinan Haul Mbah Sambu Lasem Disambut Meriah

ANTUSIAS: Peringatan haul Mbah Sambu yang ditandai dengan acara tahlil bersama di area Masjid Jami' Lasem, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Pengurus Takmir Masjid Jami’ Lasem, Kabupaten Rembang menggelar Haul Mbah Sambu atau Sayyid Abdurrahman pada Rabu (19/6) sampai Jum’at (21/6) bertepatan dengan hari IdulAdha. Acara ini digelar lebih meriah dari tahun sebelumnya.

Ketua panitia, Mulyoko menjelaskan, rangkaian acara haul bermula dengan digelarnya pemberangkatan jamaah haji. Kemudian penggantian kain luwur makam Mbah Sambu dan Mbah Srimpet, karnaval, khitan massal, festival hadroh, tahlil dan khataman Al-Qur’an.

“Rangkaian acara haul Mbah Sambu dan Mbah Srimpet sudah menjadi kegiatan rutin. Diawali buka luwur, penggantian kain putih di makam Mbah Srimpet secara simbolis,” ucapnya.

Baca juga:  Dishub Rembang Soroti Daerah Rawan Kecelakaan

Dilanjutkan, malam seremonial dengan mengundang berbagai tokoh masyarakat. Antara lain ulama, Forkompinda dan forkomincam, dan seluruh masyarakat Lasem yang hadir.

“Pada Kamis (20/6) sunatan massal ada 46 peserta¬†dari berbagai daerah di Rembang. Ada juga pawai dan karnaval untuk mengiringi dikhitan massal. Pawai dan karnaval itu diikuti dari berbagai pondok pesantren dan sekolah yang ada di Lasem,” jelasnya.

Dia menambahkan, ada juga festival hadroh menjadi pembeda dari tahun sebelumnya. Diikuti oleh 17 peserta se Jawa Tengah dan Jawa timur. Festival hadroh ini masuk dalam serangkaian haul. Karena bertujuan untuk melestarikan budaya jedoran yang ada di Rembang.

Baca juga:  Pemkab Rembang Upayakan Bantuan Embung Dilahan Pertanian

“Sebelum perlombaan dimulai festival hadroh diawali dengan rebana klasik dari Pamotan khusus pemain dari orang yang sudah sepuh. Tujuannya nguri-nguri jedoran di Rembang,” imbuhnya.

Selanjutnya, Jum’at (21/6) diisi dengan tahlil Mbah Srimpet dan Khotmil Qur’an bil Ghoib oleh para hafid dan hafidoh di Masjid Jami’ Lasem. Selain itu ada 13 masjid di kecamatan Lasem melaksanakan juga barengan melaksanakan itu.

“Jum’at sorenya Haul Mbah Sambu menjadi puncak acara yang di hadiri oleh masyarakat Lasem dan stackholder terkait,” bebernya.

Mbah Sambu. lanjut dia, merupakan orang yang mulia. Jadi dengan merayakan haulnya seyogianya harus mengambil ibrah dari perjalanan Hidup Mbah Sambu serta meneruskan teladan yang diajarkan beliau.

Baca juga:  78 Mahasiswa IPB KKN Tematik di 10 Desa di Rembang

“Dengan memeringati haul beliau, kita berarti mendoakan almarhum. Bukan berati beliau kekurangan pahala. Analoginya ada air yang sudah memenuhi sebuah gelas. Jika gelas itu diisi, maka air itu akan meluber ke sekitarnya. Artinya dengan kita mendoakan beliau, berarti pahala itu akan meluber ke diri kita,” ujarnya

Ia berharap kedepan acara haul Mbah sambu dan Mbah Srimpet selalu ada peningkatan kualitas dan kuantitas. Artinya selalu meriah tetapi tetap mengedepankan etika. (cr3/fat)