Muncul Gerakan Baru Buruh Jateng, Tolak Kebijakan Tak Adil dan PHK Besar-Besaran

SEMANGAT: Deklarasi pembentukan Aliansi Buruh Jawa Tengah (Abjat) Presidium Kota Semarang di Hotel Siliwangi, Senin (24/6/24). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Puluhan buruh Jawa Tengah membentuk gerakan baru bernama Aliansi Buruh Jawa Tengah (Abjat) imbas badai pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jateng. Dengan slogan ‘Tidak Ada Investasi Kecuali untuk Kesejahteraan Umum dan Tidak Ada Politik Kecuali untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’, Abjat bakal jadi wadah mereka menolak kebiajakan yang tidak adil.

Gerakan ini dimulai dengan deklarasi pembentukan Alinsi Buruh Jawa Tengah Presidium Kota Semarang di Hotel Siliwangi, Senin (24/6/24). Nantinya juga akan diikuti dengan pembentukan presidium di 34 kabupaten/kota lainnya.

Menurut Sekretaris Abjat, Aulia Hakim, Jateng yang selama ini digadang-gadang menjadi penyumbang investasi terbesar di Indonesia justru fakta yang terjadi malah sebaliknya. Hal ini melihat banyaknya pekerja di Jateng yang terkena PHK.

“Ini menjadi sebuah antitesis karena pada saat Indonesia menarik investasi dari internasional dan Jawa Tengah yang digadang-gadang adalah salah satu tujuan investasi terbesar tapi faktanya saat ini malah PHK besar-besaran,” katanya.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Posko 11 UIN Walisongo Ikut Turut Ikut Serta Dalam Kegiatan Posyandu Di Desa Kandri

Aulia mengatakan, fenomena ini adalah praktik kapitalisme, di mana perusahaan hanya ingin mengambil untung sebesar-besarnya saja. Namun mengorbankan tenaga kerja yang susah payah membantu aktivitas produksi.

“Menurut kami ini ada kaitannya dengan UU Cipta Kerja, bagaimana UU Cipta Kerja saat ini tidak ada manfaatnya, justru kalau dibilang menarik tenaga kerja, itu hanya omong kosong,” tegasnya.

Atas hal ini, pihaknya bakal menyebarkan ideologi anti kapitalisme kepada buruh, pegiat sosial, aktivis dan mahasiswa di Jawa Tengah. Pihaknya tidak menolak investasi asalkan dapat menyejahterakan masyarakat, terkhusus kelompok pekerja.

“Makanya kami saat ini berdiskusi lama dengan temen-temen Jateng bahwa ayo kita kembali mebuat gerakan yang lebih luas. Artinya bukan hanya dalam posisi buruh, tapi semua penggiat sosial, aktivis lingkungan hidup, mahasiswa dan lain-lain,” ungkap Aulia.

Baca juga:  Berbaur Dengan Masyarakat Kandri, Mahasiswa KKN Posko 11 UIN Walisongo Ikuti Rutinan Fatayat

Saat disinggung apakah gerakan ini ada hubungannya dengan Pilkada serentak 2024, dia menyebut bahwa gerakan Abjat berorientasi pada transaksi gagasan, bukan transaksi materi. Sehingga yang dilakukan adalah penguatan organisasi.

“Tidak ada namanya bahasa transaksional material dalam gerakan, ini termasuk Abjat, kita hanya untuk menyebarkan gagasan,” tegas Aulia.

Selain itu, gerakan ini juga menyatukan tekad kelompok buruh dalam mengawal gugatan Apindo Jateng di PTUN Semarang terkait penetapan UMK 2024. Jika gugatan pengusaha dikabulkan pengadilan, nanti akan ada aksi besar-besaran di Jawa Tengah.

“Agenda ke depan kita akan melakukan rapat-rapat presidium setelah itu kita akan ada salah Agenda terdekat adalah melakukan gerakan besar terhadap putusan PTUN, kalau nanti dimenangkan (gugatan Apindo) itu akan menjadi awal adanya gerakan besar,” tandas Aulia.

Baca juga:  Dinakkeswan Jateng Klaim Sukses Kurangi Sampah Plastik

Untuk diketahui, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jateng mencatat, ada empat perusahaan yang tutup permanen dan satu perusahaan yang pailit sepanjang tahun 2024. Imbasnya, sebanyak 417 tenaga kerja terkena PHK.

Tiga perusahaan yang tutup permanen ialah PT Semar Mas Garment, PT Cermai Makmur, PT Maju Sakti Abadi Ngadirojo, Bank Purworejo (Perumda). Sedangkan satu perusahaan yang pailit PT Cahaya Timur Garmindo.

Menurut data Disnakertrans Jateng, PHK terbanyak dilakukan oleh PT Semar Mas Garment dengan 197 karyawan. Lalu PT Maju Sakti Abadi Ngadirojo 105 tenaga kerja dan Bank Purworejo (Perumda) 60, dan PT Cermai Makmur 55. Sementara, 650 pekerja PT Cahaya Timur Garmindo terancam PHK lantaran kondisi perusahaan yang pailit. (luk/gih)