Libur Sekolah Diprediksi Tingkatkan Volume Sampah di Yogyakarta

Kabid Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan, DLH Kota Yogyakarta Christina Endang Setyowati
Kabid Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan, DLH Kota Yogyakarta Christina Endang Setyowati. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta memprediksi libur panjang sekolah akan meningkatkan volume sampah di Kota Pelajar. Oleh sebab itu, diharapkan bus wisatawan yang datang dari luar daerah tidak membuang sampah sembarangan di tempat singgah.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan, DLH Kota Yogyakarta Christina Endang Setyowati menjelaskan, menghadapi momentum liburan sekolah, DLH melakukan kerja sama dengan Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta. Supaya bus yang datang tidak meninggalkan sampahnya sembarangan

Hal itu dikarenakan, biasanya bus memiliki sampah sisa makanan di dalamnya. “Saat libur sekolah ini pasti ada peningkatan sampah. Ini baru mulai hari libur, nanti lihat saja ke depannya. Sehingga memprihatinkan sekali dengan kondisi seperti ini” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Peringati Jogja Kembali, Seniman Muda Sukseskan Historical Orchestra

Dijelaskan bahwa sisa makanan dan kardus dari dalam bus bisa diolah secara mandiri. Minimal tidak dibuang sembarangan dan bisa dimasukkan tempat sampah yang telah disediakan.

Konsentrasi sampah diperkirakan ada di titik-titik wisata seperti Tugu, Malioboro, Keraton (Gumaton), serta pusat oleh-oleh. “Ketika wisatawan datang di Yogyakarta dengan keadaan bersih, maka mereka harus meninggalkan Yogyakarta dengan keadaan bersih juga,” jelasnya.

Cristina menjelaskan, produksi sampah di Kota Yogyakarta ini awalnya bisa mencapai 300 ton per hari. Setelah adanya gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo), sampah yang dihasilkan berkurang menjadi 200 ton per hari.

Baca juga:  15 Paket Sabu Siap Edar Dimusnahkan

“Meski begitu, dengan banyaknya depo yang masih menumpuk di beberapa lokasi itu, menandakan pengolahan dari rumah belum optimal. Jika sudah optimal, tidak ada lagi sampah organik dan nonorganik di depo. Hanya sampah residu saja yang dibuang,” pungkasnya. (riz/abd)